widget animasi

translate

Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

Cepat Berburuk Sangka

SAUDARAKU, kita tak jarang mengalami betapa kita terjebak untuk bersikap mutlak-mutlakan ditengah perbedaan pendapat. Ini karena kita amat possesif terhadap pemilikan kita atas pengertian-pengertian kita sendiri. Bagai seorang perawan yang tak mau secuil pun lelaki pujaannya dijelek-jelekkan oleh orang lain. Kita begitu romatik, karena memang pada dasarnya kita begitu mencintai dan bahagia dengan Islam kita. Begitu rupa romantiknya sehingga dalam beberapa hal kita menjadi buta. Kita jadi cepat tersinggung, cepat mangkel, cepat berang dan naik pitam jika sedikit saja hal tentang ‘pacar’ kita itu disentuh orang. Secara rasional kita menjadi tidak objektif. Dan secara spiritual-psikologis kita menjadi tidak dewasa, tidak rendah hati. Keduanya bergabung dan menghasilkan suatu sikap yang tak menyiapkan untuk membuka diri dan menerima kemungkinan-kemungkinan kebenaran baru atas diri kita.

Dalam keadaan begitu kita tanpa sadar, sering melangkahi peringatan Allah, ijtanibuu katsiiron minazh zhonni, inna ba’dhodh zhonni istmun, walaa tajassasuu walaa yaghtab ba’dhukum ba’dhoo. Kita sering cepat berburuk sangka, cepat cenderung mencari hanya kesalahan-kesalahan saudara kita ynag lain. Bahkan ada prototype mentalitas kita yang kurang biasa berbeda dalam berhadapan ini, mendorong kita mengungkapkan perbedaan itu dengan cara ‘yaghtab ba’dhukum ba’dhoo’. Dengan begitu akan gampang terjerumus pula kita untuk tergolong dalam kata-kata Allah ‘yashkor qoumun minqoumin’, sedangkan bisa-bisa saja kaum yang dicerca itu yakuunuu khoiron minhum.

Lebih ‘lucu’ lagi, Saudaraku, didalam saling mencerca itu, masing-masing kita merasa benar, dan sungguh-sungguh dengan khusyu’ menyandarkan kebenaran masing-masing itu ke hadirat Allah, sehingga masing-masing meras innalloha ma’anna. Tidakkah, Saudaraku, engkau pernah menangkap dan merasakan getaran keadaan yang seperti itu ditengah perselisihan faham diantara kita semua? Bahkan ada Saudara kita yang dalam keadaan itu lantas saling mengemukakan kata-kata seperti yang diungkapkan Al Qur’an: …i’maluu ‘alaa makaanatikum innii ‘aamil, wantadhiru inni muntazhirun…, atau …lanaa a’malunaa wa lakum a’maalukum, salamun ‘alaikum laa nabtaghil-jaahilin… atau fanistakbaruu fal-ladziina ‘inda robbika yusabbihuuna bil lili wan-nahaari wa hum laa yas-amuun…, bahkan …idz ja’alalladziina kafaruu fii qulubihimul-hamiyyata hamiyyatal-jaahiliyati fa-anzalallahu sakinatahu ‘alaa rosuulihi wa ‘alal mukminina wa alzamahum kalimatat-taqwa.

Tentu saja, Saudaraku, itu benar. Dan mungkin saja memang diantara beribu pikiran kita atau diantara sikap-sikap hidup kita terdapat unsur kekufuran tertentu (seperti juga silau mata kita yang berlebihan terhadap keduniawian dewasa ini bisa dianggap meng-ilah-kan yang selain Allah); akan tetapi, tentu akan lebih afdhol, apabila kita mengusahakan suatu keterbukaan dan kedewasaan komunikasi, justru untuk membuka kedok kemungkina kekufuran pribadi kita masing-masing dan melenyapkannya. Saudaraku mungkin pernah mendengar aku beberapa kali mengalami berbagai perselisihan faham dengan berbagai kalangan Muslim dalam pentas-pentas atau pembicaraan-pembicaraanku diberbagai tempat, dan aku gagal menemui keinginanku akan keterbukaan dan kedewasaan komunikasi seperti itu. Aku sering berkata kepada saudara-saudara kita: “Jika Saudaraku melihat aku sesat, dan bersedia mengishlah membawaku kepada jalan yang benar, maka alangkah besar rasa syukurku”. Namun, aku justru sering menghadapi berbagai sikap tertutup seperti kuungkapkan diatas: sikap tertutup itu bukan karena Islam, tetapi karena faktor mentalitas, keterbatasan-keterbatasan psikologis. Sampai pada suatu saat aku berkata kepada diriku sendiri: Kalau saja aku ini seorang muallaf, maka dengan menghadapi sikap jumud seperti itu, tak mustahil aku terlempar kembali ke luar Islam. Namun, Alhamdulillah, justru karena itu maka Allah berkenan menganugerahiku tenaga untuk makin mencintai-Nya serta lebih dalam meyelami samudera nilai Islam yang demikian luas dan dalam.

Saudaraku tahu mungkin kemusliman kita ini belum apa-apa dan sungguh masih amat jauh dari yang dikehendaki Allah, karena itu betapa kita semua harus senantiasa siap terbuka atas nilai-nilai kebenaran Islam yang mungkin saja kemarin masih belum kita insyafi. Banyak hal kita ketahui, namun jauh lebih banyak lagi yang belum kita ketahui. Allah telah memaparkan segalanya, tapi barangkali mata kita masih cukup buta dan telinga kita masih agak tuli. Segala yang ‘kita kuasai’ itu pastilah sedzurroh saja dibanding realitas dan nilai yang sesungguhnya yang disediakan oleh Allah Yang Maha Kaya.

Kita semua adalah khalifah fil-ardh, tetapi engkau atau aku bukanlah satu-satunya khalifah. Dan aku kira tidak benarlah apabila kita mempunyai sikap seperti itu: seakan-akan kita adalah langsung mewakili Allah dimana setiap orang musti sependapat dengan kita, betapapun secara subjektif kita amat meyakini dan menganggap luhur keyakinan serta kebenaran pikiran kita sendiri itu. Saudaraku Insya Allah sudah membaca buku Dialog Sunnah Syi’ah: surat-menyurat antara ‘Kyai Sunnah’ asy-Syaikh al-Bisri al-maliki dengan ‘Ulama Jumhur’ as-Sayyid Syarafuddin al-Musawi al-‘Amili itu amat memberi informasi berharga kepada kita tentang percaturan faham yang berbeda antara Sunnah yang mayoritas dan Syi’ah yang minoritas. Akan tetapi yang tak kalah bermaknanya dibanding informasi itu ialah bagamana cara dan watak mereka didalam berdialog. Bagaimana keterbukaan sikap pribadi mereka, seberapa kematangan dan kedewasaan yang menjadi ruh komunikasi antara mereka, betapa tawadhu’ dan rendah hati mereka, serta betapa besar gairah murni untuk sungguh-sungguh mencari kebenaran: tanpa sikap defensif dalam arti emosional, tanpa menonjolkan ‘gengsi’ atau ‘harga diri’ pada proporsi yang tak wajar, atau tanpa etos ‘mempertahankan pendapat secara membabi- buta’ seperti yang sering menjadi watak dari dialog-dialog moderen dewasa ini, yang acapkali terkotak pada dimensi ‘intelektual’ belaka. Semua perwatakan dialog itu tentu saja merupakan ‘dimensi tersembunyi’ dibalik formalitas informasi yang dipaparkan oleh buku tersebut.

Demikianlah, Saudaraku, kita yang masih faqir ini semoga dibimbing oleh Allah untuk menumbuhkan kekayaan-kekayaan seperti itu. Kita Kaum Muslimin Insya Allah akan menyongsong kemenangan, tetapi itu tak bisa tidak harus dimulai dari kesediaan kita semua untuk memerangi berbagai marodhun didalam diri kita sendiri. In dholaltu fainnamaa adhillu ‘alaa nafsii, wa-inihtadaitu fabimaa yuuniya ilayya robbil innahu samii’un qorlib.

Memilih Presiden

Kalau kita makan, kita punya kekuasaan terhadap yang kita makan. Kalau kita memilih makan nasi uduk, itu kita perhitungkan kita membelinya di suatu warung yang kita mampu mengontrolnya. Kalau nasinya ada krikilnya kita protes, dan kita punya pengetahuan apakah nasi ini beracun atau tidak, basi atau tidak.

Setiap pilihan resikonya adalah harus disertai kesanggupan untuk mengontrol sesuatu yang kita pilih. Di situlah kelemahan kita sebagai bangsa Indonesia. Kita harus memilih pemimpin tanpa sedikit pun ada kesanggupan untuk mengontrol pemimpin yang kita pilih itu.

Bahkan lebih dari itu, bukan hanya tidak sanggup mengontrol, kita bahkan tidak punya pengetahuan yang mencukupi sama sekali mengenai sesuatu yang kita pilih. Kita tidak tahu sebenarnya caleg ini kualitasnya bagaimana, hidupnya bagaimana, istrinya berapa, akhlaknya bagaimana, kita tidak tahu sama sekali. Bahkan tokoh-tokoh terkenal pun rakyat tidak tahu. Bapak ini, Gus itu, orang nggak tahu sebenarnya. Dan kalau pun mereka tahu, mereka tak punya daya kontrol terhadap yang dipilihnya ini, tapi mau tak mau harus memilih. Ini saya kira dilema kita bersama se-Indonesia.

Jadi, sederhana saja sebenarnya. Kalau anakmu naik kapal merantau ke luar pulau, maka selama naik kapal akan ada kemungkinan ada badai, ada kemungkinan dibunuh orang, ada kemungkinan dia bertengkar dengan orang, ada kemungkinan dia di ancam bahaya. Kepada siapakah engkau menyerahkan anakmu yang engkau tak bisa mengontrolnya di perjalanan, kepada siapa? Kamu titipkan pak Camat? Kamu titipkan nahkoda? Tidak ada jalan lain kecuali engkau titipkan pada Allah SWT. Kalau yang kau pilih di pemilu nanti kau tidak tahu siapa dia, kamu tidak bisa mengontrol dia, kenapa tidak kau serahkan pada Tuhan? Jadi serahkan pada Tuhan.

Kalau dalam Islam sederhana. Kalau misal anda tidak memilih, kalau nanti anda berdoa supaya bangsa kita sejahtera, nanti Tuhan mengejek juga “Lha kamu nggak milih aja kok minta bangsamu sejahtera”. Tapi kalau memilih bingung juga mau memilih yang mana, sedangkan kalau memilih tidak bisa mengontrol juga. Ya kalau begitu serahkan pada Tuhan.

Kalau dalam Islam caranya jelas. Jadi malamnya shalat dulu kek, kalau nggak sempat ya dalam hati saja berdoa, “Ya Tuhan, gimana mosok saya nggak nyoblos, saya kan warga negara. Saya pilih lah yang kira-kira paling bagus. Cuma kan saya ndak bisa mengontrol dia, Tuhan. Jadi, tolong dong, ini saya pilih satu. Setelah saya pilih dan coblos, saya serahkan kepada-Mu. Kalau dia pemimpin yang baik, panjangkan umurnya. Beri dia kekuatan, dan bantulah urusan-urusannya. Tapi kalau yang aku pilih ini ternyata pengkhianat, penjilat, penindas rakyat dan sama sekali tidak punya cinta kepada kami-kami yang di bawah ini, mbok dilaknat dengan cepat, mbok cepat-cepat diberi tindakan, Tuhan. Terlalu lama lho kami rakyat Indonesia kayak gini terus bingung nggak habis-habis. Terus kepada siapa dong aku mengeluh? Kepada siapa dong rakyat Indonesia mengeluh? Kepada DPR? Wong mereka itu yang justru kami keluhkan kepada-Mu ya Allah. Jadi tolong, Tuhan….”

Bisa juga ditambahi ayat-ayat. Sebelum masuk kotak atau bilik bilang di dalam hati, begitu mau mencoblos baca “Wa makaruu wa makarallah wa-llahu khoirul maakirin”. Kalau mereka makar pada nilai-nilai Allah dan nilai rakyat, maka Allah akan makar pada mereka. Dan yang paling jagoan untuk makar adalah Allah. Kalau mereka khianat pada rakyat, berarti mereka khianat pada Tuhan. Maka Tuhan juga akan makar pada mereka. Wa-llahu khoirul maakirin. Jejak bumi tiga kali, baru dicoblos. Nanti kalau dia khianat, dia sakit kudis.

Anjuran Simbah

Assalamu’alaikum wr wb

SETIAP pengambilan keputusan, termasuk hal Pemilu, ahsan wa afdhal jika dilakukan sendiri secara mandiri, sebagai al’abd al-baligh (hamba Allah yg dewasa) dan al-khalifah al’aqil (khalifah Allah pengguna akal).
Akan memilih atau tidak, dianjurkan malam sebelum hari-H melakukan tafakur, shalat istikharoh dan shalat tahajjud, memohon petunjuk Allah dan mewiridkan berulang-ulang “Ya Hadi Ya Mubin” semampunya.

Khusus untuk Jamaah Maiyah, ahsan wa afdhal jika malam itu sebelum tidur melaksanakan Doa Tahlukah.

Jika pagi hari-H mengambil keputusan untuk tidak memilih (karena keyakinan atau pandangan yg dipercaya sudah matang) dianjurkan untuk shalat Dhuha 7x (14 roka’at), membaca “Qul in dholaltu fainnama adhillu ‘ala nafsi, wa inihtadaitu fabima yuhiya ilayya Robbi” diakhiri istighfar sebanyak2nya sesanggupnya.

Jika mengambil keputusan untuk memilih, dianjurkan untuk memilih pihak yang paling diharapkan (berdasarkan pengalaman dan sejarah calon pemilih terhadap yg diharapkannya itu), meskipun tidak dimengerti benar karena terbatasnya informasi tentang pihak yg diharapkan itu. Dengan anjuran: sejak dari rumah hingga saat-saat menunggu giliran memilih, maupun ketika akan melaksanakan pilihan di dalam ruangan — mewiridkan (berbisik-bisik atau dengan hati) “wamakaru wamakarallah wallahu khoirul Makirin”.

Setiap hamba Allah berhak penuh untuk menerima dan melaksanakan anjuran ini, juga berhak penuh untuk menolak dan mengabaikannya. Bagi teman-teman yang tidak mungkin menggunakan anjuran-anjuran ini karena berbeda idiom dan prosedur keagamaannya, mohon diapresiasi dimensi rohaniahnya.

“Man-yahdillahu fala mudhilla lah, wa man yudhlil fala hadiya lah”.
Wassalam wr wb

S i m b a h
April 2014

Menjadi Manusia Sang Pendaki

Peringatan Isra’ Mi’raj umumnya selalu dikaitkan dengan perintah sholat kepada umat Islam. Namun kalau dipelajari lagi, ada sisi lain yang lebih menarik dari peristiwa ini. Misalnya kalau kita mau mendalami arti dalam ayat 1 surah Al Isra’, maka kita akan paham bahwa hidup ini harusnya selalu diorientasikan berdasarkan konsep diperjalankan Allah SWT. Dengan kata lain, apapun jabatan kita, entah jadi presiden, menteri, gubernur, bupati, walikota, guru, dosen, dokter, tukang ojeg, blantik sapi, dst, sesungguhnya berada dalam koridor diperjalankan Tuhan sehingga dengan begitu kita janganlah terlalu banyak berprasangka mengenai diri kita dan mengenai dunia. Jika Allah yang memperjalankan, maka pasti Dia yang akan “memfasilitasi” dan menjamin keselamatan kita.

Kata kunci lain dalam surat tersebut selain kata “diperjalankan” adalah kata “pada suatu malam”. Bagi orang yang sudah sampai kepada jalan Allah, maka akan paham bahwa kata “malam” berarti “gelap”. Artinya hidup itu malam, hidup itu gelap dan peristiwa-peristiwa masa depan dalam hidup kita adalah malam. Karena itu untuk melewati kegelapan itu kita butuh cahaya, kita butuh penerang yang harus kita dapat dari apa saja yang telah diberitakan oleh Tuhan melalui ayat-ayatnya (tanda-tanda) kebesaranNya.

Dari titik itulah, pada pilpres nanti, misalnya, kita hanya bisa berharap pada orang yang benar-benar “diperjalankan Allah” untuk memimpin kita. Selama ini para kandidat calon, berada dalam koridor “diperjalankan” oleh : uang, politik, ambisi pribadi, kekayaan, popularitas dan seterusnya. Padahal mereka berada dalam “kegelapan” malam. Mereka berjalan tanpa “cahaya” dari Allah, sehingga hasilnya, hampir 300 kepala daerah, kini berada di bui.

Karena tidak “diperjalankan” oleh Allah, maka banyak pemimpin kita yang kemudian tersesat di kegelapan, dan pasti tidak mencapai mi’raj. Mestinya setiap peran apapun, jika itu diperjalankan Allah, maka akan sampai kepada tingkat manfaat. Kalau dalam hidup ini tidak ada peningkatan kualitas diri, berarti kita hidup tanpa berkah Allah.

Mi’raj atau Sang Pendaki
Jika dalam hidup kita tidak pernah naik kelas, maka konsep mi’raj tidak terjadi dalam hidup kita. Dalam hadits disebutkan Ash sholatu mi’rajul mukmin. Sholat adalah mi’raj orang beriman. Mi’raj sendiri artinya “pendakian”. Tidak bisa orang sholat itu hanya mendatar tanpa bisa mengantar manusia untuk naik kelas.

Perintah bahwa hidup harus selalu menjadi “sang pendaki” juga dikatakan oleh Paul G. Stoltz dalam bukunya yang berjudul Adversity Quotient (2000). Pada intinya Stoltz menegaskan tidak memadainya seseorang hanya memiliki IQ (Intellectual Quotient) yang unggul saja. Di Amerika, para pemilik perusahaan-perusahaan sukses umumnya tidak bersekolah secara formal, atau setidaknya DO, seperti Bill Gates.

Untuk mampu merubah “hambatan” menjadi “peluang”, Stoltz menawarkan perlunya “keyakinan” sebagai kekuatan utama sebagai seorang pendaki atau “climbers”. Di sela-sela orang lain mengalami keputusasaan, sang pendaki mampu menembusnya. Jika orang sudah memiliki bekal pesimistis, misalnya selalu mengatakan sesuatu sebagai “sulit dan tidak mungkin”, maka ia akan mengalami kesulitan dalam hidupnya.

Karenanya Stoltz membagi ada tiga golongan manusia, yakni : Pertama, Jenis. Quitters, yakni orang yang selalu befikir “tidak mungkin atau sulit”; Kedua,. Jenis campers, atau pekemah, yakni tidak sampai mencapai puncak, namun hanya punggung bukit untuk “berkemah”. Kamus hidupnya hanya sederhana “pokoke segini aja udah cukup, nggak perlu repot-repot”; dan ketiga, jenis. Climbers atau pendaki. Orang jenis ini selalu berseri-seri karena selalu optimistik, meski ada juga yang keterlaluan hingga “menghalalkan” beberapa cara. Semuanya tinggal seberapajauh seseorang memiliki bekal iman jika ingin menjadi sang pendaki agar tidak terjebak dalam hal-hal negatif.

Dalam tradisi sufistik, kekuatan untuk menghadapi sesuatu harus selalu dilatih. Kalau ini dicapai, maka ia akan “tahan banting” dan selalu optimis. Kata Al Ghazali, jika kamu ingin menjadi orang yang saleh, maka milikilah lima sifat dari anak-anak. Kelima sifat itu ialah : mereka tidak cemas makanan sehari-harinya, tidak mengeluh ketika sakit, apapun makanan yang mereka miliki akan selalu berbagi, ketika berselisih tidak ada dendam, perlakuan meremehkan membuat mereka takut dan membuat mereka meneteskan air mata.

Dari titik ini nampak bahwa peristiwa Isra` mi`raj sangat inspiratif untuk perubahan, mencari keadilan, kebenaran, serta menjadi manusia ”sang pendaki”. Ini semua harus dikembangkan jika manusia ingin menuju peningkatan kualitas diri. Ajaran agama itu pada dasarnya untuk membentuk akhlaq dan moralitas. Dalam puasa nanti, mutu ”sang pendaki” harus memuncaki seluruh proses kerinduan yang terjadi sepanjang tahun.

Kalau ini bisa dilakukan maka dalam pilkada dan pilpres nanti, kita berharap akan mendapatkan tipe-tipe pemimpin yang berfungsi seperti ”sang pendaki”, mengabdikan diri menuju kualitas kehidupan berbangsa bernegara yang baik. Di sinilah letak pentingnya kesholehan pribadi dan sosial. “Sholeh itu kemampuan diri untuk menghitung setiap perkataan dan perbuatan kita sehingga mampu menakar apakah yang kita ucapkan dan lakukan itu kira-kira menimbulkan mudharat atau manfaat kepada orang banyak.

Itulah sang pendaki.

The Politics of Kissing Hands

Seorang sahabat sekaligus saudara kita dari Bogor, yang tulus hatinya dan tegak pikirannya, yang bersahaja hidupnya maupun sangat serius hajinya — sejak beberapa bulan yang lalu menuntut saya agar menuliskan lewat sebuah rubrik suatu masalah yang ia sodorkan kepada saya melalui surat. Masalah yang baginya amat sangat penting, dan alhamdulillah bagi saya juga amat sangat penting.

Lebih alhamdulillah lagi karena Rasulullah Muhammad saw, juga sangat concern terhadap soal ini, terbukti lewat banyaknya sabda beliau yang khusus mempermasalahkannya. Juga bagi Allah swt sendiri — sepengetahuan saya — soal ini juga termasuk tema primer dan prinsipil yang harus diurus oleh hamba-hambaNya secara murni dan konsekuen.

Mustahil kalau bagi Allah masalah ini tergolong sekunder. Hal mengenai siapa yang dihormati dan siapa yang menghormati, telah ia informasikan acuan dasar akhlaq atau moralitasnya. Allah tidak memerintahkan agar seorang bapak atau ibu merunduk di depan anak-anaknya, melainkan anak-anak yang dengan prinsip birrul walidain wajib menghormati bapak-ibu mereka.

Bukan karena iseng-iseng saja Allah menciptakan adegan di mana ia memerintahkan para malaikat agar bersujud kepada Adam. Episode ini tidak bisa diubah misalnya dengan meletakkan iblis sebagai aktor yang disembah sementara Adam mensujudinya. Menurut salah satu logika tafsir, begitu satu malaikat menolak menyembah Adam, turun derajat atau kualitas malaikat itu — dari “cahaya” menjadi “api”. Ilmu bahasa Alquran kemudian juga berkembang mengacu pada kasus ini, di mana nur (cahaya) selalu dipakai untuk menggambarkan kemuliaan di akhirat, sementara nar (api, neraka) digunakan sebagai simbul dari kehinaan dan kesengsaraan.

Padahal nur dan nar berasal dari komposisi huruf dan rumpun kosakata yang sama.

Iblis ogah menyembah Adam karena alasan feodalisme dan alasan penolakan terhadap regenerasi. Alasan feodalnya, atau bahasa simbolisasi Qur’aniyahnya bernama takabur (gemedhe, sok lebih hebat), karena Iblis merasa dirinya terbuat dari material atau dzat yang lebih tinggi, halus, kualitatif, dan lebih mulia dibanding Adam yang hanya sedikit lebih tinggi dibanding keramik yang sama-sama terbuat dari tanah liat. Padahal Allah sudah menetapkan bahwa Adam itu ahsanu taqwin (sebaik-baik ciptaan), karena manusia dianugerahi “cakrawala” (kemungkinan), sementara malaikat atau iblis hanya memiliki “tembok statis” (kepastian) untuk baik atau kepastian untuk buruk. Manusia yang mengolah dirinya dalam kebenaran akan berkualitas mengungguli malaikat, sementara manusia yang memperosokkan diri dalam kesesatan akan berderajat lebih rendah dibanding iblis dan setan.

Sedangkan alasan “penolakan terhadap sunnah regenerasi” — maksudnya adalah ketidaksediaan iblis untuk menerima kepemimpinan manusia atas alam semesta. Bagi iblis manusia itu “anak kemarin sore” kok mau sok memimpin.

Emangnya dia sudah pernah ikut penataran P-4 atau memiliki sertifikat Pekan Kepemimpinan HMI atau PMII! Kok berani-beraninya menjadi khalifah! Apakah manusia sudah punya pengalaman dan jam kerja kepemimpinan, sehingga berani sombong mencalonkan diri atau tenang-tenang saja ketika diputuskan oleh Allah untuk menjadi pemimpin?

Demikianlah, karena hakekat eksistensi manusia adalah “pengembaraan ke cakrawala kemungkinan” — maka ia bisa tiba pada ruang, waktu dan posisi untuk berhak dihormati atau justru wajib menghormati.

Para nabi, rasul, dan auliya’ sukses memposisikan diri untuk dihormati oleh para malaikat, ditemani oleh makhluk-mahkluk rohaniah itu ke manapun mereka pergi.

Sementara banyak manusia lain, misalnya Gendheng Pamungkas, sengaja atau tak sengaja melakukan mengembaraan untuk memposisikan diri agar justru menghormati iblis. Bahkan kita semua ini sesungguhnya diam-diam memiliki dimensi-dimensi nilai empirik yang membuat kita layak menghormati iblis — berkat suksesnya rekruitmen dan mobilisasi mereka atas kita-kita yang hina ini.

Kaum ulama juga terdiri atas manusia-manusia biasa yang menempuh cakrawala. Mereka bisa tiba di suatu maqam tinggi, suatu istiqamah, suatu tempat berdiri nilai — yang membuat mereka dihormati oleh ummatnya, dihormati oleh umara, didatangi oleh pejabat gubernur, menteri, dan presiden. Namun bisa juga kaum ulama tiba pada suatu derajat yang tidak mengandung kualitas istiqamah apa-apa, tidak memiliki cahaya kemuliaan sebagai golongan yang ‘alim — sehingga justru mereka dalam tatanan struktural keduniaan justru berderajat untuk selalu sowan kepada umara.

Lebih mengasyikkan lagi kerena sangat banyak ulama, keulamaan, dan kelembagaan ulama yang legitimasinya berasal dari umara. Derajat mereka sangat rendah, dan tak berkurang kerendahannya meskipun ditutup-tutupi dengan seribu retorika dunia modern mengenai partnership antara ulama-umara atau dengan dalih-dalih dan alibi-alibi apapun.

Ulama-ulama jenis ini keadaannya sangat mengenaskan hati. Mereka selalu mengikatkan tangannya pada borgol kekuasaan. Membungkukkan punggungnya di hadapan penguasa dunia, bahkan tidak berkeberatan sama sekali untuk mencium punggung tangan sang penguasa. Di zaman terang dahulu kala terdapat banyak cerita mengenai ‘kesombongan’ ulama yang tak mau dipanggil penguasa, karena derajat ulama bukanlah ditimbali atau didhawuhi oleh penguasa, melainkan dihormati dan dibutuhkan oleh penguasa. Di zaman bebendhu sekarang ini, banyak ulama bukan saja akan sangat senang kalau dipanggil menghadap ke istana penguasa, tapi bahkan selalu mencari jalan, lobi dan channel bagaimana bisa menghadap penguasa.

Sowan ulama kepada umara adalah sebuah mainstream bahasa kolaborasi terhadap kekuasaan. Sowan adalah pernyataan kesetiaan politik ulama kepada umara. Ulama yang membungkuk dan mencium tangan penguasa adalah simbolisasi dari tidak hidupnya etos zuhud di kalangan ulama.

Sowan mencerminkan ketergantungan kaum ulama kepada kekuasaan, keamanan politik praktis, dan mungkin juga jatah-jatah ekonomi — meskipun sekedar arisan naik haji atau dibikinkan satu unit gedung pesantren.

Yang paling salah dari episode-episode sejarah semacam ini adalah Anda-anda yang pusing kepala gara-gara tetap saja meyakini bahwa mereka adalah ulama.

Kriteria Kepemimpinan

DALAM terminologi yang sederhana, wacana utama kriteria kepemimpinan sekurang-kurangnya harus melingkupi tiga dimensi: kebersihan hati, kecerdasan pikiran, serta keberanian mental.

Jika pemimpin hanya memiliki kebersihan hati saja, misalnya, tanpa didukung kecerdasan intelektual dan keberanian, maka kepemimpinannya bisa gampang stagnan.

Begitu pula sebaliknya. Jika pemimpin hanya memiliki kecerdasan belaka tanpa didukung kebersihan hati dan keberanian, maka jadinya seperti di 'menara gading' alias monumen yang bukan hanya tanpa makna, tapi juga nggangguin kehidupan rakyatnya. Apalagi, jika pemimpin hanya memiliki keberanian saja tanpa kebersihan hati dan kecerdasan, maka akan menjadikan keadaan semakin kacau dan buruk.

Sebenarnya, kriteria kepemimpinan sama persis dengan kriteria manusia biasa atau orang kebanyakan, Kalau omong tentang pemimpin, sebaiknya jangan muluk-muluk. Berpikir sederhana saja. Misalnya. syarat menjadi suami. Pertama, harus manusia.
Kedua, harus laki-laki. Baru yang ketiga, keempat, dan seterusnya.

Syarat suami harus manusia itu banyak tak diperhatikan orang, padahal jelas banyak suami berlaku seperti ia bukan manusia. Bertindak hewaniah kepada istrinya, juga kepada orang lain. Bukankah menjadi manusia itu sendiri saja sudah sedemikian sukarnya? Kenapa kita punya spontanitas untuk mentertawakan dan meremehkan bahwa syarat menjadi suami itu harus manusia?

Jadi, syarat menjadi Presiden atau Lurah itu ya sedehana saja: harus manusia. Sebab ratusan juta rakyat di muka bumi sengsara dalam berbagai era sejarahnya, gara-gara pemimpin negaranya berlaku tidak sebagaimana manusia, padahal semua orang sudah menyepakati bahwa ia manusia. Bukankah perilaku kebinatangan itu sebenarnya peristiwa jamak dan 'rutin' dalam konstelasi perpolitikan dan kekuasaan? Juga persaingan ekonomi?

Dulu saya bangga hanya ada istilah political animal dan economic animal, tidak ada cultural animal. Saya bersombong yang punya kecenderungan kebinatangan hanya pelaku politik dan ekonomi, kebudayaan tidak. Tapi ternyata itu salah. Cultural animal juga bukan main banyaknya. Termasuk di bidang kesenian, hiburan, informatika dll. Mungkin sekali termasuk saya sendiri.

Kemudian syarat menjadi suami yang kedua adalah harus laki-laki. Ternyata banyak suami berlaku tidak laki-laki. Ia jantan ketika di ranjang, tapi tidak dalam mekanisme politik rumah tangga, tidak di dalam pergaulan. Betapa banyaknya lelaki yang ternyata betina, yang berlaku tidak fair, curang, culas, suka mengincar, menyuruh bikin kerusuhan supaya nanti dia yang jadi pahlawan, merancang membakar gedung parlemen supaya bisa bikin dekrit, dan lain sebagainya.

Meskipun, dari sudut ideologi pembelaan kaum perempuan, saya tidak mantap dengan etimologi dan filosofi kebahasaan kita.

Kenapa orang yang jujur kita sebut jantan, yang pengecut kita sebut betina atau perempuan. Bukankah kejantanan yang dimaksud di situ bisa juga dilakukan oleh wanita?

Bisa saja ada lelaki betina dan perempuan jantan. Jadi yang dimaksud pemimpin harus laki-laki bukan dalam pengertian fisik, melainkan dalam pengertian kepribadian.

Demokrasi Yatim Piatu

DEMOKRASI merupakan puncak pencapaian ilmu, ideologi dan wisdom hasil karya ummat manusia abad 20-21. Demokrasi telah disepakati untuk menjadi satu-satunya “kiblat” dalam urusan kehidupan bernegara dan berbangsa. Hampir tidak ada ketidak-sepakatan terhadap demokrasi.

Semua orang menjunjung demokrasi. Semua orang merasa salah, bodoh dan dekaden kalau ragu terhadap demokrasi. Tidak ada pidato Presiden, bahkan Soeharto, apalagi sesudahnya, yang tak mengerek bendera demokrasi. Tak ada pendapat dalam diskusi, perdebatan dalam talk-show, seminar, disertasi dan tesis, pun pidato Pak Lurah dan Ketua RT, bahkan ketika terbaring sendiri di bilik pribadi, kita bergumam-gumam sendiri “I love you democracy!” dalam pikiran dan hati.

Itu tak lain karena saking sucinya demokrasi. Sayapun dipersilahkan oleh demokrasi untuk mengabadikannya dalam tulisan, meskipun sungguh sangat sulit. Orang kotor mustahil menggagas kesucian. Dan meskipun tulisan ini berangkat dari niat menjunjung tinggi demokrasi, sesungguhnya modal hidup kotor saya tidak menambah tingginya kesucian demokrasi yang saya junjung. Kesucian tidak memerlukan pengakuan dari kekotoran bahwa ia suci.

Mungkin kalimat-kalimat saya ini ibarat ungkapan Iblis yang mencoba menjunjung Tuhan, karena pada dasarnya ia sangat takut kepada Tuhan dan hanya mau “menyungkurkan diri” di hadapan Tuhan. Saya sangat mencintai demokrasi, tetapi itu tidak berarti saya mampu menerapkan demokrasi dalam perilaku hidup saya.

Demokrasi itu bak “perawan”, yang merdeka dan memerdekakan.

Watak utama demokrasi adalah “mempersilahkan”. Tidak punya konsep menolak, menyingkirkan atau membuang. Semua makhluk penghuni kehidupan berhak hidup bersama si Perawan, bahkan berhak memperkosanya: yang melarang memperkosa bukan si Perawan itu sendiri, melainkan “sahabat”nya yang bernama Moral dan Hukum.

Si Perawan bisa ditunggangi oleh kaum kapitalis di Eropa untuk menyingkirkan kekuasaan Gereja dan dulu Kerajaan-kerajaan. Dan sesudah kapitalisme menguasai panggung bangsa dan masyarakat, demokrasi tidak mengharuskan para kapitalis untuk bersikap demokratis, karena demokrasi tidak memiliki karakter untuk mengharuskan.

Para Capres, Caleg, Cagub-Cawagub, Cabup-Cawabup, bisa mengendarai Perawan untuk berhak menyerap dana dari siapapun demi menerapkan strategi mencapai jabatan yang hendak diraihnya. “Money politic” tidak dilirik atau diawas-awasi oleh si Perawan, karena yang bertugas untuk itu adalah Undang-undang. Demokrasi bukan tak punya daya untuk mengantisipasi korupsi dan penyelewengan, tetapi memang itu bukan bagiannya. Demokrasi bahkan mempersilahkan siswa SD menenggak narkoba, murid SMP nonton bareng video porno, lelaki berpoligami atau bermonogami, suami-suami istri-istri bertukar teman tidur, warga ikut nyoblos atau memilih golput, atau melakukan apapun dan tidak melakukan apapun dalam kehidupan yang merdeka semerdeka-merdekanya.

Yang mengurusi narkoba bukan demokrasi, tapi rekanan kerja peradabannya yang bernama Ilmu Kesehatan. Yang mengantisipasi video porno adalah Moral dan Keselamatan Hidup. Yang merespon pertukaran suami istri adalah Keseimbangan Sosial. Yang mewaspadai pemilu dan golput adalah pertandingan kekuasaan dan akses politik.

Demokrasi itu perawan suci yang yatim dan piatu. Tak punya Bapak Ibu, nasabnya belum pernah diperjelas. Ia memerdekakan manusia sepenuh-penuhnya. Semua dan setiap manusia sangat membutuhkan kesucian demokrasi, sebagian untuk tempat berlindung, dan sebagian lain untuk melakukan eksploitasi dan subversi pengkhianatan nilai.

Hendaklah setiap manusia menikahi demokrasi, memperistri atau mempersuami si Perawan, tetapi ajaklah ia tinggal di rumah Hukum, yang berfundamen Ilmu, di lingkungan pertetanggaan Moral, dengan sirkulasi udara Budaya, dengan menjaga pertatapan wajah dan sorot mata nurani, serta pemeliharaan rahasia iman dan perhubungan sunyi Tuhan.

Demokrasi adalah makhluk terindah hasil karya ummat manusia selama peradaban. Manusia Jawa meromantisirnya dengan sebutan Kiai Demos dan Pangeran Kratos. Makhluk penjunjung demokrasi sangat meyakini bahwa puncak pencapaian kecerdasan dan nurani mereka sejak “Renaissance” ini belum pernah digapai oleh ummat manusia pada era manapun sebelumnya: Atlantis dan Lemorian, Hastinapura, Inka dan Maya, Hud iradzatim’imad, ribuan tahun Dinasti Pharao, Jawa-Dwipa, Medang Kamulan, atau kurun apapun, tidak juga pernah dicapai oleh makhluk Laserta, Smarabhumi, Nyi Roro Kidul dan siapapun.

Peradaban modern hingga post-modernism hingga post-globalism bahkan sangat mudah menemukan keunggulannya: yakni meyakini bahwa apapun saja yang mereka belum tahu, apapun saja yang akal pikiran dan penelitian ilmu mereka belum menjangkau - itu berarti inexist, unbeing, tiada. Yang ada dalam kehidupan ini hanyalah yang orang sekarang mengetahuinya ada dan menganggapnya ada. Mengetahui dengan kasat mata dan jasad telinga.

Kiai Demos dan Pangeran Kratos, yang melahirkan “maha” - teknologi, dari gedung-gedung sangat tinggi hingga se-debu chip yang dipasang di jidat setiap orang, dunia maya yang memperkerdil jagat menjadi segenggaman tangan, bozone dan fermione, nano technology, persenjataan kimia rahasia, atau apapun - sama sekali jangan dibandingkan dengan teknologi lidi Lombok Pawang Hujan, helai rambut santet, celak-Arab dan tanah kuburan Jin, Ilmu Katuranggan, takir Dewi Sri, dan apapun yang dibangga-banggakan di masa silam.

Kekuasaan Tuhan dengan seluruh jajaran birokrasi-Nya, dari para Malaikat Menteri hingga Datu Laut, Danyang gunung, Kepala Dinas Awan dan Hujan dan ribuan “PNS” maupun “Angkatan Bersenjata” - Nya - sudah digantikan oleh Kongres Amerika, 3 juta hadirin pelantikan Obama, strategi Java Tel-Aviv, bursa modal di tangan anak turun Ismail ben Ibrahim dan tata kelola jagat raya di genggaman turunan Ishaq ben Ibrahim, dipembantu-umumi Bill Gates dan Steve Job. Bahkan perusahaan penyelenggaraan haji internasional berada dalam kendali ben Laden.

Semua itu kini sedang mencapai puncak dan ujungnya. Jika sebentar lagi tiba suatu hari di mana yang inexist tiba-tiba exist, yang unbeing mendadak nongol being, yang nothing mencegatmu sebagai a real true thing: si Perawan akan mulai belajar menjanda.

Filosofi Penindasan

RAKYAT saya ini sungguh bandel. Sebagai pemimpin, sungguh saya tak pernah menyangka bahwa manusia bisa sedemikian mbanggel-nya. Susah benar mengatur mereka. Orang diajak bersatu saja kok sukarnya bukan main.

Mending mengurusi kambing atau sapi.

Bersatu itu 'kan enak. Alam dan kehidupan sudah memberi contoh sejak dulu.

Kalau cabe mau bersatu dengan terasi dan brambang, ditambah garam, kan jadi sambal yang nylekit. Apa sih keberatannya? Sekadar bersatu dengan terasi -- kok keberatan. Apa maunya hidup tanpa sambal?
Coba kalau berani: bikin undang-undang yang melarang sambal! Saya jamin akan terjadi revolusi.

Dan revolusi semacam itu belum tentu akan terjadi kalau alasannya adalah bukan sambal. Kalau yang jadi isu sekadar ketidakadilan sosial, konglomerasi yang berlebihan, kediktatoran politik atau masalah-masalah remeh yang semacamnya -- berani taruhan tak akan bisa membuat rakyat
bergerak.

Hanya sambal sajalah yang dijamin bisa menjadi sumber people power.

Ini adalah negeri sambal. Ini adalah masyarakat sambal. Ini adalah kebudayaan dan peradaban sambal.

Dan sekarang terbukti bahwa terutama di bidang politik, para aktivis jelas tidak mampu meniru persatuan sambal.

Jadi, saya ini sebagai pemimpin, benar-benar pusing kepala.

Entah kenapa Tuhan mencampakkan saya ke urusan-urusan di mana saya harus berhadapan dengan anak-anak kemarin sore yang naif-naif.

Saya ajak merawat persatuan dan kesatuan, rewelnya bukan main.
Saya kasih tawaran untuk memiliki kemuliaan jiwa, juga ogah-ogahan.

Misalnya, kaki mereka saya injak, lantas saya katakan: ''Damai ya? Kamu mau memafaatkan saya atau tidak? Memaafkan itu perbuatan luhur.
Tuhan saja banyak sifat pemaaf dan pengampunnya.

Tuhan itu ghofur, tawwab, 'afuwwu, ghofar dan lain-lain. Semua itu sifat pemaaf. Coba kamu pikir, Tuhan yang mahabesar dan tak butuh apa-apa saja bersedia memaafkan, kok kamu sok tidak mau memaafkan. Ayo! Mau memaafkan saya atau tidak! Kalau tidak, berarti kamu menentang saya!

Merongrong kewibawaan saya!'' Jadi, kalau saya menginjak kaki mereka, itu suatu metode pendidikan untuk melatih kebesaran jiwa mereka. Kalau saya menempeleng kepala mereka, itu untuk menguji keluasan hatinya. Kalau saya menendang seseorang sehingga terlempar jatuh dari kursinya dan ia lantas duduk di kursi bayangan, itu demi menatar keteguhan batinnya. Kalau saya rampok hartanya, saya gusur ladangnya atau saya ambrukkan rumahnya, itu semata-mata kaifiyah atau prosedur agar mereka mengembangkan kecerdasan ilmunya tentang keadilan dan kebenaran.Menguji keluasan hati, melatih kebesaran jiwa, mengembangkan ilmu dan meneguhkan akhlak, dan lain sebagainya -- adalah hal-hal yang merupakan inti ajaran Tuhan dan para nabi-Nya. Saya sekadar penerus, ahli waris.

Di sinilah letak kesalahpahaman rakyat saya. Maklumlah mereka memang masih bodoh-bodoh. Merdeka belum lama. Terlalu lama dijajah oleh Kumpeni dan sebelumnya ditindas oleh raja-raja sendiri. Jadi memang saya memerlukan tahap-tahap pembangunan dan pendidikan jangka panjang Puluhan tahun. Dan kalau saya boleh buka rahasia: saya tidak mau dinilai oleh Tuhan sebagai pemimpin yang tinggal gelanggang colong playu. Pemimpin yang lari dari tanggung jawab sebelum tugasnya mampu dibereskan dengan tuntas.

Tidak. Saya bukan tipe manusia yang pengecut dan betina. Sebelum tanggung jawab bisa saya penuhi sepenuhnya, saya tidak akan lari ke manapun. Saya akan tetap panggul tanggung jawab itu, sebagaimana para rasul dulu loro-lopo memanggul risalah mereka, meskipun disakiti, dilukai, difitnah, dirasani, dan disalahpahami.

Itulah beda antara saya dan kebanyakan pemimpin lain di dunia ini. Mereka pada umumnya melompat dari kursi amanat rakyatnya dan melarikan diri keluar dari balairung tanggungjawab nasionalnya, sebelum tugasnya dituntaskan. Beberapa tahun mereka sudah tak tahan dan angkat tangan.

Lantas turun dari jabatannya dengan meninggalkan problem-problem.
Dan problem-problem itu harus diselesaikan oleh para penggantinya. Para pemimpin baru yang menggantinya, yang tidak ikut menciptakan problem, harus susah payah mengatasinya.

Itu benar-benar suatu kecurangan sejarah.

Dan saya tidak. Sekali saya tegaskan: saya tidak! Saya tidak demikian. Saya bukan pengecut licik dan tengik. Saya, dengan saksi Allah, para malaikat dan segala lelembut -- akan dengan teguh memanggul tanggung jawab ini sampai titik darah penghabisan. Rawe-rawe rantas.
Malang-malang putung.

Tapi ya itu -- susah bener menyuruh rakyat untuk bersatu.

Masyaallah. Tetapi, namanya juga rakyat. Rakyat itu kanak-kanak abadi.

Susah diajak dewasa. Kalau anak kecil itu kemriyek, suka ribut dan suka berebut apa saja. Kalau orang dewasa bisa lebih tenang dan stabil jiwanya. Sungguh saya mendambakan kedewasaan rakyat. Maunya saya, mbok yang tenang-lah. Saya kasih makan apapun, usahakanlah tenang. Kalau saya kasih peraturan-peraturan, atau bahkan pun kalau saya sendiri melanggar peraturan yang saya bikin, berupayalah untuk tetap tenang.

Tujuan saya adalah memang menguji daya ketenangan dalam jiwa mereka.

Kalau saya menggusur, saya sekadar ingin tahu seberapa kadar kesabaran mereka. Kalau saya ambil makanan lebih banyak dibanding jumlah makanan mereka semua, itu wajar, karena saya memang pemimpin. Moso' pemimpin disuruh kelaparan! Kalau saya menentukan siapa Kepala Satgas, siapa Ketua Partai, siapa Pimpinan Organisasi, berapa hektar sawah untuk keluarga saya, dan lain sebagainya -- itu semata-mata untuk mendeteksi takaran sangka baik nasional mereka.
Rakyat saya harus dewasa, harus matang kepribadiannya, tidak gampang bersangka buruk, tidak gampang iri, dengki atau cemburu.

Misalnya sekali waktu, atau di banyak waktu, sengaja saya menerapkan perilaku yang penuh kemunafikan. Itu apa tujuan saya? Tak lain tak bukan adalah untuk mengetahui secara persis seberapa tinggi ketahanan mereka atas hal-hal yang buruk. Kalau saya sebarkan ketidakadilan, umpamanya, saya ingin mengerti seberapa kukuh hati mereka ditimpa oleh nasib buruk yang menyiksa. Sebagai pemimpin saya tidak mau punya rakyat yang cengeng, yang rewel dan sentimentil.
Mereka harus tetap tenang, damai dan bersatu, meskipun ditimpa ketidakadilan dan ketidakbenaran.

Mungkin terpaksa saya akan menuliskan semua filosofi ini dalam buku-buku.

Mungkin akan saya cicil sedikit demi sedikit melalui pidato-pidato, agar rakyat saya terdidik. Mungkin juga saya akan menciptakan semacam reportoar drama, entah monolog entah drama kolosal -- mengenai semua ini -- agar saya berlega hati menyaksikan rakyat saya berproses untuk dewasa dan penuh persatuan dan kesatuan. Kalau tidak, saya akan malu kepada dunia.

2014

SEJAK jauh sebelum hari Pilgub Jakarta - yang pada akhirnya Jokowi-Ahok menjadi jawara - sejumlah teman saya tanya:
“Lebih ok mana Foke-Nara atau Jokowi-Ahok?” muncul labirin dan mosaik jawaban.

Ada jawaban “close-up” : si FN bagusnya di sini, kacaunya di situ; si JA hebatnya begini, memblenya begitu - tentu saja semua dalam skema nilai-nilai baku kebangsaan dan kenegaraan: kualitas kepemimpinan, kematangan manajemennya, kreativitas pembangunannya, watak sosial budayanya, juga kadar kasih sayang kerakyatannya.

Jawaban yang ini ada yang ambil dari konsep demokrasi modern, ada yang dari filosofi dan budaya tradisi, ada yang dari Agama, tapi tentu saja banyak yang “common sense” atau “kata ini”, “menurut itu” dan lain sebagainya. Yang dari Agama misalnya menyebut pemimpin harus soleh. Soleh maksudnya kebaikan yang dikerjakan dengan konsep, perencanaan dan perhitungan komprehensif sedemikian rupa sehingga “dipastikan” sangat minimal mudlaratnya.

“Soleh” itu “baik” pada formula yang demikian. Ada “baik-baik” yang lain dalam bahasa Tuhan. “Khoir” itu kebaikan yang universal, cair, bahkan Kristal, belum berbentuk, belum aplikatif. “Ma’ruf” itu kebaikan yang sudah melalui dialektika, diskusi, perundingan, pergesekan-pergesekan antar manusia, sehingga kemudian disepakati sebaga aturan bersama. “Ihsan” itu kebaikan yang lahir murni dari nurani manusia: orang berbuat baik meskipun tidak disuruh, tidak diwajibkan, tidak diatur oleh hukum atau etika. Ada lagi “birr”, yang menghasilkan istilah “mabrur” : itu puncak pencapaian kebaikan dalam hubungan spesifik antara manusia dengan Tuhan, pada posisi di mana dunia dipunggungi atau sekurang-kurangnya dinomer-duakan secara total.

Kalau memakai “close-up” pemahaman yang ini, benar-benar tidak gampang menilai mana yang lebih oke antara FN dengan JA. Begitu luasnya kemungkinan dalam kehidupan, namun begitu jauh lebih luasnya cakrawala probabilitas pada diri manusia. Kalaupun persepsi, analisis dan kesimpulan kita tepat tentang JA dan FN, kebenarannya direlatifkan oleh teori ilmu teater: “Tidak ada aktor yang buruk. Yang ada adalah pemain yang berada di tempat yang tepat atau tidak”.

Jadi, soal “casting”. Hidung seindah dan semancung apapun menjadi mengerikan kalau letaknya tergeser setengah sentimeter. Shalat menjadi kebaikan kepada Tuhan hanya kalau dilaksanakan pada interval waktunya. Berdzikir siang-siang itu buruk ketika berbarengan dengan istri bingung tak punya beras. Bernyanyi dan bermusik dangdut itu sangat dilaknat kalau dilaksanakan di halaman Masjid ketika orang sedang shalat Jumat berjamaah.

Bahkan ada orang yang ketepatannya adalah memelihara kambing, bukan ayam. Ada pejabat yang ketepatannya menjadi penjaga gudang. Ada tentara yang ketepatannya berpangkat Kolonel, sehingga Pak Riamirzad Ryacudu ketika menjadi KASAD pusing kepala karena ada temannya yang mengajukan Surat Mohon Tidak Naik Pangkat.

Orang macam saya ini hampir sama sekali nir-tepat: jadi intelektual tidak tepat, jadi seniman, kiai, aktivis, dukun, pengasuh Sekolah, pemikir, dan macam-macam lagi - belum pernah benar-benar berada pada koordinat ketepatan.

Kalau keruwetan hidup macam itu dituruti: bagaimana bisa punya presisi pengetahuan bahwa JA tepat memimpin Jakarta? Apalagi terkadang, entah berapa prosentasenya, justru yang diperlukan adalah ketidak-tepatan. Striker sebuah kesebelasan nendang bola agak melenceng, sehingga terkena kaki pemain belakang lawan, sehingga bola meleset dan masuk gawang.

Nabi Muhammad SAW menyarankan mantan musuh utamanya sesudah “Kemenangan Mekah” agar segera cari istri dan berumah tangga. Dilaksanakan. Kelak putra beliau yang dikasih saran ini yang membunuh cucu Nabi. Jengis Khan menghancur-leburkan peradaban Islam meluluh-lantakkan perpustakaan besar Islam Baghdad, kemudian kelak cucunya menjadi tokoh Muslim yang membangun kembali tradisi intelektual dan kebudayaan Islam.

Dalam kasus itu di mana letak ketepatan dan di mana ketidak-tepatan? Penguasa pembunuh keluarga Nabi Muhammad SAW itu menambah teks khutbah Jumat dengan kalimat kutukan kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Kelak cucunya menjadi Khalifah terbaik dalam sejarah Islam dan dia yang menghapus kalimat kutukan itu. Karena itu dalam sebuah peperangan, tatkala pasukan musuh keok dan tinggal dipenggal lehernya, Nabi Muhammad SAW melarangnya: “Jangan bunuh, saya sudah mendoakan kebaikan Islam bagi cucu-cucu mereka”.

Jadi JA dan FN berangkulan aja dari maqamnya masing-masing untuk membangun kegembiraan rakyat Jakarta dengan kesungguhan hati dunia akhirat. Terserah Jokowi bisa wudlu atau tidak, itu wilayah konflik dia dengan Allah. Toh sudah sama-sama bisa makan berkecukupan, bisa beli pakaian lebih dari tiga lembar, punya mobil, dan sudah sama-sama aqil baligh.

Aqil artinya sudah memiliki kesanggupan untuk menggunakan akal. Dan akal itu pasti sehat. Baligh artinya kemampuan untuk menyampaikan, menerapkan, mengaplikasikan, mewujudkan, mengejawentahkan atau mentransformasikan visi menjadi realitas, ilmu menjadi kenyataan, cita-cita dan cinta menjadi entitas kehidupan.

Mereka toh juga sama-sama “Amirul Mu’minin”, pemimpin proses menuju “aman”, dengan landasan “iman”, membawa senjata “amanah”, dengan ujung doa “amin”. Amirul Mu’minin membangun iman amin amanah aman beras rakyatnya, aman sekolah anak-anaknya, aman pasarnya, aman kesehatannya, aman keadilannya, aman hartanya, aman kerjaannya, aman seluruhnya.

Jokowi dan Foke sama-sama Muslim dan Mu’min. Kriteria, parameter atau tanda-tandanya: kalau ada Jokowi dan Foke, kalau ada Muslim dan Mu’min di suatu lingkungan, maka terjamin amanlah harta semua orang, aman martabat semua orang, dan aman nyawa semua orang.

Tetapi jaminan “aman” itu belum pernah benar-benar menjadi pengalaman sejarah, sekurang-kurangnya belum dipercaya bahwa benar demikian. Sehingga atas pertanyaan tentang JA-FN itu muncul jawaban yang sangat lebih jauh “mempercayai” relativitas. Memang lebih luas namun ada semacam tarik-ulur antara kemungkinan dengan kepastian. Semacam jawaban agak bingung antara sangka baik dengan sangka buruk, antara kewaspadaan dengan rasa kapok - oleh suatu keberlangsungan realitas yang mungkin mengecewakan, bahkan mungkin menyiksa.

Kehidupan ini sedemikian tidak pastinya sehingga ada suatu momentum pertandingan sepakbola di mana suatu kesebelasan lebih baik kalah dari pada menang. Karena faktor mental, karakter, route hati dan bioritme, situasi kebersamaan mereka, peta dan tahap turnamen - membuat kesebelasan itu lebih baik mengalami kalah dulu kali ini, demi kebangunan yang lebih matang pada tahap berikutnya. Juga karena kwalitas mental para pemain belum transenden dari situasi kalah atau menang.

Jawaban yang ini berpandangan bahwa dalam hukum dialektika sejarah, belum tentu kalau JA menang itu pasti baik bagi diri mereka atau rakyat Jakarta. Juga kalau FN kalah belum tentu itu buruk bagi keduanya maupun bagi rakyat. Juga tak bisa dipastikan sebaliknya. Tetapi karena keterbatasan rasional, manusia harus mengambil ketetapan pandangan bahwa yang baik adalah kalau JA menang dan yang celaka adalah kalau FN menang. Sementara kalangan yang lain harus memastikan pendapat sebaliknya: bahwa yang aman adalah kalau FN menang dan yang bahaya adalah kalau JA menang.

Keduanya memiliki kebenarannya masing-masing, sehingga yang terindah dalam kehidupan adalah kita manusia menyediakan ruang seluas-luasnya untuk apresiasi bahwa orang lain hidup dalam kebenarannya sendiri yang bisa jadi berbeda atau bertentangan dengan kebenaran kita. Kebudayaan dan peradaban dibangun oleh kesanggupan managemen, kerendah-hatian, dinamika-kontinyu ilmu, kearifan dan kelenturan mental pada manusia di antara perbedaan dan pertentangan itu.

Itulah sebabnya selama pertandingan dua petinju saling mengincar, memukul dan menjatuhkan, kemudian selesai tanding mereka berpelukan, saling mengangkat dan mengacungkan tangan lawannya. Sebab mereka itu “musuh” selama pertandingan namun sahabat dalam kehidupan. Partnership yang kompak dalam ideologi untuk sama-sama menghormati sportivitas. Sportif itu bahasa moralnya: jujur. Bahasa hukumnya: adil. Bahasa keseniannya: pas.

Jawaban yang paling “parah” berbunyi semacam “distrust statement”. Suatu ungkapan pesimis yang ternyata optimistik. Misalnya: “Jokowi atau siapapun pasti bisa berbuat baik dan sedikit mengubah Jakarta, tapi tidak akan berdaya menghadapi penyakit-penyakit Indonesia yang sudah terlalu akut. Yang dicuri terlalu banyak, yang mencuri terlalu banyak, modus pencuriannya, formulanya dan teknis strategi pencuriannya saling mendukung dan saling menggelembungkan dengan mental dan budaya kemunafikan yang hampir sempurna.”

“Semua itu muncul di semua lini dan segmen, di semua bidang dan disiplin, di gedung pemerintahan, di sekolah, di lembaga-lembaga apapun, di jalanan, di tempat-tempat ibadah. Teraplikasi pada manusianya dan sistemnya, etika sosialnya dan hukumnya. Komplikasi penyakit Pemerintahan Indonesia di era apapun sudah bukan hanya tidak bisa diatasi, tapi bahkan semua bertengkar ketika mencoba merumuskannya. Dengan pendekatan ilmu dari bumi, planet-planet maupun dari langit sap tujuh”.

“Ini bangsa semakin tidak mengerti dirinya. Ini Negara salah lahirnya. Ini rakyat menjalani 25 tahun Orde Lama untuk menyesalinya, menelusuri 32 tahun Orde Baru untuk mengutuknya, kemudian memanggul 14 tahun Reformasi untuk muntah dan pecah kepalanya. Bawa ke sini Mahatma Gandhi, Abraham Lincoln, Nelson Mandela, Firaun yang cacat teologi namun ratusan tahun sejahtera rakyatnya, serta semua pemimpin dunia yang terpuji dan emas catatan sejarahnya: gabungkan menjadi satu orang, mari bertaruh kalau sampai dia bisa mengatasi masalah Indonesia….”

Jadi bagaimana pesismisme itu bisa bersifat optimistik? Teman itu menjawab:
“Barang siapa tidak punya kemampuan untuk mengatasi masalah, maka ia tidak berkewajiban untuk menyelesaikan masalah. Barang berat yang mestinya dimuat oleh truk besar, tidak memberi kewajiban kepada becak atau andong untuk mengangkutnya. Kita yang becak lakukan terus darma perjuangan becak, yang andong aktif terus menyelenggarakan pengabdian becak.”

“Setor-setor kerja keras dan kebaikan ke masa depan sesedikit apapun. Rajin tanam padi terus, karena ada sahabat-sahabat dari pegawai birokrasi alam semesta yang menjalankan kewajiban menumbuhkan padi itu dan menyiapkan panen raya. Ada ratusan Kabinet dalam kehidupan, termasuk yang meneteskan embun dari gigir daun-daun, yang memelihara detak jantung, juga yang menjadwal jam berapa kita buang air kecil pagi ini, siang nanti, sampai kelak kita mati atau datang kiamat besar atau kecil, tanpa bergantung pada keputusan DPR dan Sidang Isbat Depag”.

“Ya Allah, nanti 2014 ikut Pemilu dong…. Kalau Engkau berpartisipasi, jatah suara-Mu tak satu, melainkan hidayah-Mu dengan mudah merasuki semua mereka yang sedang bingung menentukan pilihan”.

Korupsi Sebagai Kasus Penyakit Jiwa

KORUPSI di mana-mana. Korupsi di hampir semua lapisan. Dari pamong-pamong desa hingga yang paling atas.

Korupsi di hampir semua petak-petak di mana uang mengalir, bahkan pun sampai di sekitar koper dan surban ratusan ribu para calon haji.

Korupsi di setiap tahun, bulan, hari, dan mungkin juga jam, menit, dan detik.
Korupsi menjadi salah satu "sahabat" sehari-hari kita. Korupsi menjadi salah satu identitas terpenting dari bangsa yang besar ini, bangsa yang selalu merasa besar ini, bangsa yang selalu membesarbesarkan dirinya ini.

Korupsi atas uang orang banyak. Korupsi otoritas birokrasi yang sesungguhnya merupakan amanat. Korupsi hak-hak, yang asal-usul asasinya bahkan dari Allah langsung. Korupsi kewenangan, di mana para petugas yang digaji rakyat merasa "GR", tak tahu diri dan bahkan yakin bahwa mereka adalah atasannya rakyat. Korupsi makna atas ratusan kalimat filosofi kebangsaan, prinsip-prinsip dasar kenegaraan, undang-undang, konsep dan aturanaturan. Korupsi interpretasi di kantor-kantor para buruh rakyat, serta juga di sel-sel dan jaringan otak mereka.

Korupsi penafsiran dalam penataran-penataran, instruksi dan "petunjuk". Kegilaan nasional kita semua dalam menggunakan kosakata "petunjuk"--tak lain tak bukan--adalah perbuatan takabur kepada Tuhan, pemilik tunggal hidayah. Korupsi keragaman menjadi ketunggalan.

Disuruh bersatu tetapi tak boleh ada dua atau tiga. Padahal kalau hanya ada satu maka tak diperlukan persatuan atau pun kesatuan. Korupsi atas hal-hal yang paling kasar, wadag, materi sampai korupsi atas kasunyatan yang lembut, yang amat.
Korupsi atas batu sungai, tambang tembaga, kata-kata mutiara, gelondongan kayu, sampai korupsi atas informasi mengenai para nabi dan Tuhan.

Korupsi informasi tak hanya di koran-koran yang memasang jargon maha indah di leher penampilannya. Korupsi dari tingkat yang halus ringan dan hanya merugikan nilai itu sendiri serta yang bersangkutan, sampai korupsi yang besar-besaran yang memotong usus nasib berjuta-juta orang.

Korupsi d kantor kelurahan, kecamatan, kabupaten, gubernur, di rombongan kloter sekian di hotel-hotel Madinah, di batok kepala orang-orang yang setiap saat dijunjung-junjung sebagai pemimpin - sampai si terjunjung sampai percaya bahwa ia memang benar-benar manusia yang tak pernah korup dan layak dijunjung-junjung, dipikul dhuwur dan kelak dipendhem jero.

Korupsi tak terasa korupsi karena milik bersama, dilakukan bersama, ditutupi dengan alibi-alibi bersama, ditaburi harum wewangian retorika dan excusing yang bisa didaftar berpuluh-puluh dari berbagai sudut, sisi, dan disiplin. Korupsi menjadi kecenderungan sehari-hari. Menjadi "naluri alamiah" tradisi kebudayaan kita. Menjadi makanan pokok sehari-hari.

Menjadi candu yang membuat orang merasa rugi kalau tak melakukannya. Baik karena candu itu sudah menjadi potensialitas kerakusan pribadi, maupun karena secara kolektif tak pernah ada jaminan bahwa kalau seseorang tidak korup maka lainnya pun tidak.

Fakta di Balik Kriminalisasi KPK, dan Keterlibatan SBY

Apa yang terjadi selama ini sebetulnya bukanlah kasus yang sebenarnya, tetapi hanya sebuah ujung dari konspirasi besar yang memang bertujuan mengkriminalisasi institusi KPK. Dengan cara terlebih dahulu mengkriminalisasi pimpinan, kemudian menggantinya sesuai dengan orang-orang yang sudah dipilih oleh “sang sutradara”, akibatnya, meskipun nanti lembaga ini masih ada namun tetap akan dimandulkan.  

Agar Anda semua bisa melihat persoalan ini lebih jernih, mari kita telusuri mulai dari kasus Antasari Azhar. Sebagai pimpinan KPK yang baru, menggantikan Taufiqurahman Ruqi, gerakan Antasari memang luar biasa. Dia main tabrak kanan dan kiri, siapa pun dibabat, termasuk besan Presiden SBY.

Antasari yang disebut-sebut sebagai orangnya Megawati (PDIP), ini tidak pandang bulu karena siapapun yang terkait korupsi langsung disikat. Bahkan, beberapa konglomerat hitam — yang kasusnya masih menggantung pada era sebelum era Antasari, sudah masuk dalam agenda pemeriksaaanya.
Tindakan Antasari yang hajar kanan-kiri, dinilai Jaksa Agung Hendarman sebagai bentuk balasan dari sikap Kejaksaan Agung yang tebang pilih, dimana waktu Hendraman jadi Jampindsus, dialah yang paling rajin menangkapi Kepala Daerah dari Fraksi PDIP. Bahkan atas sukses menjebloskan Kepala Daerah dari PDIP, dan orang-orang yang dianggap orangnya Megawati, seperti ECW Neloe, maka Hendarman pun dihadiahi jabatan sebagai Jaksa Agung.

Setelah menjadi Jaksa Agung, Hendarman makin resah, karena waktu itu banyak pihak termasuk DPR menghendaki agar kasus BLBI yang melibatkan banyak konglomerat hitam dan kasusnya masih terkatung –katung di Kejaksaan dan Kepolisian untuk dilimpahkan atau diambilalih KPK. Tentu saja hal ini sangat tidak diterima kalangan kejaksaan, dan Bareskrim, karena selama ini para pengusaha ini adalah tambang duit dari para aparat Kejaksaan dan Kepolisian, khususnya Bareskrim. Sekedar diketahui Bareskrim adalah supplier keuangan untuk Kapolri dan jajaran perwira polisi lainnya.

Sikap Antasari yang berani menahan besan SBY, sebetulnya membuat SBY sangat marah kala itu. Hanya, waktu itu ia harus menahan diri, karena dia harus menjaga citra, apalagi moment penahanan besannya mendekati Pemilu, dimana dia akan mencalonkan lagi. SBY juga dinasehati oleh orang-orang dekatnya agar moment itu nantinya dapat dipakai untuk bahan kampanye, bahwa seorang SBY tidak pandang bulu dalam memberantas korupsi. SBY terus mendendam apalagi, setiap ketemu menantunya Anisa Pohan , suka menangis sambil menanyakan nasib ayahnya.

Dendam SBY yang membara inilah yang dimanfaatkan oleh Kapolri dan Jaksa Agung untuk mendekati SBY, dan menyusun rencana untuk “melenyapkan” Antasari. Tak hanya itu, Jaksa Agung dan Kapolri juga membawa konglomerat hitam pengemplang BLBI (seperti Syamsul Nursalim, Agus Anwar, Liem Sioe Liong, dan lain-lainnya), dan konglomerat yang tersandung kasus lainnya seperti James Riyadi (kasus penyuapan yang melibatkan salah satu putra mahkota Lippo, Billy Sindoro terhadap oknun KPPU dalam masalah Lipo-enet/Astro, dimana waktu itu Billy langsung ditangkap KPK dan ditahan), Harry Tanoe (kasus NCD Bodong dan Sisminbakum yang selama masih mengantung di KPK), Tommy Winata (kasus perusahaan ikan di Kendari, Tommy baru sekali diperiksa KPK), Sukanto Tanoto (penggelapan pajak Asian Agri), dan beberapa konglomerat lainnya].

Para konglomerat hitam itu berjanji akan membiayai pemilu SBY, namun mereka minta agar kasus BLBI , dan kasus-kasus lainnya tidak ditangani KPK. Jalur pintas yang mereka tempuh untuk “menghabisi Antasari “ adalah lewat media. Waktu itu sekitar bulan Februari- Maret 2008 semua wartawan Kepolisian dan juga Kejaksaan (sebagian besar adalah wartawan brodex – wartawan yang juga doyan suap) diajak rapat di Hotel Bellagio Kuningan. Ada dana yang sangat besar untuk membayar media, di mana tugas media mencari sekecil apapun kesalahan Antasari. Intinya media harus mengkriminalisasi Antasari, sehingga ada alasan menggusur Antasari.

Nyatanya, tidak semua wartawan itu “hitam”, namun ada juga wartawan yang masih putih, sehingga gerakan mengkriminalisaai Antasari lewat media tidak berhasil.
Antasari sendiri bukan tidak tahu gerakan-gerakan yang dilakukan Kapolri dan Jaksa Agung yang di back up SBY untuk menjatuhkannya. Antasari bukannya malah nurut atau takut, justru malah menjadi-jadi dan terkesan melawan SBY.

Misalnya Antasari yang mengetahui Bank Century telah dijadikan “alat” untuk mengeluarkan duit negara untuk membiayai kampanye SBY, justru berkoar akan membongkar skandal bank itu. Antasari sangat tahu siapa saja operator –operator Century, dimana Sri Mulyani dan Budiono bertugas mengucurkan duit dari kas negara, kemudian Hartati Mudaya, dan Budi Sampurna, (adik Putra Sanpurna) bertindak sebagai nasabah besar yang seolah-olah menyimpan dana di Century, sehingga dapat ganti rugi, dan uang inilah yang digunakan untuk biaya kampanye SBY.

Tentu saja, dana tersebut dijalankan oleh Hartati Murdaya, dalam kapasitasnya sebagai Bendahara Partai Demokrat, dan diawasi oleh Eddy Baskoro plus Djoko Sujanto (Menkolhukam) yang waktu itu jadi Bendahara Tim Sukses SBY. Modus penggerogotan duit Negara ini biar rapi maka harus melibatkan orang bank (agar terkesan Bank Century diselamatkan pemerintah), maka ditugaskan lah Agus Martowardoyo (Dirut Bank Mandiri), yang kabarnya akan dijadikan Gubernur BI ini. Agus Marto lalu menyuruh Sumaryono (pejabat Bank Mandiri yang terkenal licik dan korup) untuk memimpin Bank Century saat pemerintah mulai mengalirkan duit 6,7 T ke Bank Century.

Antasari bukan hanya akan membongkar Century, tetapi dia juga mengancam akan membongkar proyek IT di KPU, dimana dalam tendernya dimenangkan oleh perusahaannya Hartati Murdaya (Bendahara Demokrat). Antasari sudah menjadi bola liar, ia membahayakan bukan hanya SBY tetapi juga Kepolisian, Kejaksaan, dan para konglomerat , serta para innercycle SBY. Akhirnya Kapolri dan Kejaksaan Agung membungkam Antasari. Melalui para intel akhirnya diketahui orang-orang dekat Antasari untuk menggunakan menjerat Antasari.

Orang pertama yang digunakan adalah Nasrudin Zulkarnaen. Nasrudin memang cukup dekat Antasari sejak Antasari menjadi Kajari, dan Nasrudin masih menjadi pegawai. Maklum Nasrudin ini memang dikenal sebagai Markus (Makelar Kasus). Dan ketika Antasari menjadi Ketua KPK, Nasrudin melaporkan kalau ada korupsi di tubuh PT Rajawali Nusantara Indonesia (induk Rajawali Putra Banjaran). Antasari minta data-data tersebut, Nasrudin menyanggupi, tetapi dengan catatan Antasari harus menjerat seluruh jajaran direksi PT Rajawali, dan merekomendasarkan ke Menteri BUMN agar ia yang dipilih menjadi dirut PT RNI, begitu jajaran direksi PT RNI ditangkap KPK.

Antasari tadinya menyanggupi transaksi ini, namun data yang diberikan Nasrudin ternyata tidak cukup bukti untuk menyeret direksi RNI, sehingga Antasari belum bisa memenuhi permintaan Nasrudin. Seorang intel polisi yang mencium kekecewaan Nasrudin, akhirnya mengajak Nasrudin untuk bergabung untuk melindas Antasari. Dengan iming-iming, jasanya akan dilaporkan ke Presiden SBY dan akan diberi uang yang banyak, maka skenario pun disusun, dimana Nasrudin disuruh mengumpan Rani Yulianti untuk menjebak Antasari.

Rupanya dalam rapat antara Kapolri dan Kejaksaan, yang diikuti Kabareskrim. melihat kalau skenario menurunkan Antasari hanya dengan umpan perempuan, maka alasan untuk mengganti Antasari sangat lemah. Oleh karena itu tercetuslah ide untuk melenyapkan Nasrudin, dimana dibuat skenario seolah yang melakukan Antasari. Agar lebih sempurna, maka dilibatkanlah pengusaha Sigit Hario Wibisono. Mengapa polisi dan kejaksaan memilih Sigit, karena seperti Nasrudin, Sigit adalah kawan Antasari, yang kebetulan juga akan dibidik oleh Antasari dalam kasus penggelapan dana di Departemen Sosial sebasar Rp 400 miliar.

Sigit yang pernah menjadi staf ahli di Depsos ini ternyata menggelapakan dana bantuan tsunami sebesar Rp 400 miliar. Sebagai teman, Antasari, mengingatkan agar Sigit lebih baik mengaku, sehingga tidak harus “dipaksa KPK”. Nah Sigit yang juga punya hubungan dekat dengan Polisi dan Kejaksaan, mengaku merasa ditekan Antasari. Di situlah kemudian Polisi dan Kejaksaan melibatkan Sigit dengan meminta untuk memancing Antasari ke rumahnya, dan diajak ngobrol seputar tekanan-tekanan yang dilakukan oleh Nasrudin. Terutama, yang berkait dengan “terjebaknya: Antasari di sebuah hotel dengan istri ketiga Nasrudin.

Nasrudin yang sudah berbunga-bunga, tidak pernah menyangka, bahwa akhirnya dirinyalah yang dijadikan korban, untuk melengserkan Antasari selama-lamanya dari KPK. Dan akhirnya disusun skenario yang sekarang seperti diajukan polisi dalam BAP-nya. Kalau mau jujur, eksekutor Nasrudin buknalah tiga orang yangs sekarang ditahan polisi, tetapi seorang polisi (Brimob ) yang terlatih.

Bibit dan Chandra. 
Lalu bagaimana dengan Bibit dan Chandra? Kepolisian dan Kejaksaan berpikir dengan dibuinya Antasari, maka KPK akan melemah. Dalam kenyataannya, tidak demikian. Bibit dan Chandra , termasuk yang rajin meneruskan pekerjaan Antasari. Seminggu sebelum Antasari ditangkap, Antasari pesan wanti-wanti agar apabila terjadi apa-apa pada dirinya, maka penelusuran Bank Century dan IT KPU harus diteruskan.

Itulah sebabnya KPK terus akan menyelidiki Bank Century, dengan terus melakukan penyadapan-penyadapan. Nah saat melakukan berbagai penyadapan, nyangkutlah Susno yang lagi terima duit dari Budi Sampoerna sebesar Rp 10 miliar, saat Budi mencairkan tahap pertama sebasar US $ 18 juta atau 180 miliar dari Bank Century. Sebetulnya ini bukan berkait dengan peran Susno yang telah membuat surat ke Bank Century (itu dibuat seperti itu biar seolah–olah duit komisi), duit itu merupakan pembagian dari hasil jarahan Bank Century untuk para perwira Polri. Hal ini bisa dipahami, soalnya polisi kan tahu modus operansi pembobolan duit negara melalui Century oleh inner cycle SBY.

Bibit dan Chandra adalah dua pimpinan KPK yang intens akan membuka skandal bank Bank Century. Nah, karena dua orang ini membahayakan, Susno pun ditugasi untuk mencari-cari kesalahan Bibit dan Chandra. Melalui seorang Markus (Eddy Sumarsono) diketahui, bahwa Bibit dan Chandra mengeluarkan surat cekal untuk Anggoro. Maka dari situlah kemudian dibuat Bibit dan Chandra melakukan penyalahgunaan wewenang.

Nah, saat masih dituduh menyalahgunakan wewenang, rupanya Bibit dan Chandra bersama para pengacara terus melawan, karena alibi itu sangat lemah, maka disusunlah skenario terjadinya pemerasan. Di sinilah Antasari dibujuk dengan iming-iming, ia akan dibebaskan dengan bertahap (dihukum tapi tidak berat), namun dia harus membuat testimony, bahwa Bibit dan Chandra melakukan pemerasan.

Berbagai cara dilakukan, Anggoro yang memang dibidik KPK, dijanjikan akan diselsaikan masalahnya Kepolisian dan Jaksa, maka disusunlah berbagai skenario yang melibatkan Anggodo, karena Angodo juga selama ini sudah biasa menjadi Markus. Persoalan menjadi runyam, ketika media mulai mengeluarkan sedikir rekaman yang ada kalimat R1-nya. Saat dimuat media, SBY konon sangat gusar, juga orang-orang dekatnya, apalagi Bibit dan Chandra sangat tahu kasus Bank Century. Kapolri dan Jaksa Agung konon ditegur habis Presiden SBY agar persoalan tidak meluas, maka ditahanlah Bibit dan Chandra ditahan. Tanpa diduga, rupanya penahaan Bibit dan Chandra mendapat reaksi yang luar biasa dari publik maka Presiden pun sempat keder dan menugaskan Denny Indrayana untuk menghubungi para pakar hukum untuk membentuk Tim Pencari Fakta (TPF).

Demikian, sebetulnya bahwa ujung persoalan adalah SBY, Jaksa Agung, Kapolri, Joko Suyanto, dan para konglomerat hitam, serta innercycle SBY (pengumpul duit untuk pemilu legislative dan presiden). RASANYA ENDING PERSOALAN INI AKAN PANJANG, KARENA SBY PASTI TIDAK AKAN BERANI BERSIKAP. Satu catatan, Anggoro dan Anggodo, termasuk penyumbang Pemilu yang paling besar.
Jadi mana mungkin Polisi atau Jaksa, bahkan Presiden SBY sekalipun berani menagkap Anggodo!

By dreweight
Oleh : Rina Dewreight
Sumber:http://faktakriminalisasi.wordpress.com/2009/11/12/fakta-di-balik-kriminalisasi-kpk-dan-keterlibatan-sby/