widget animasi

translate

Tampilkan postingan dengan label Dongeng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dongeng. Tampilkan semua postingan

Gundul Pacul, Fooling Around, Cengengesan

SIAPA tahu ada manfaatnya kisah tentang Gundul Pacul ini bagi Anda.

Ketika grup musik KK (Kiai Kanjeng) pentas keliling lima kota Mesir - Cairo, Alexandria, El-Fayoum, Tanta dan Ismailia - nomer-nomer lagu Ummi Kultsum panitia mempersoalkan kenapa saya tidak selalu tampil pentas, padahal nama saya sudah terlanjur diumumkan di setiap pemberitaan, spanduk dan katalog, terbata-bata saya menjawab: “Karena saya lebih lancar berbicara bahasa Inggris dibanding bahasa Arab”.

Dan ketika KK pentas di Australia, Melbourne, Canberra, Sydney dan Adelaide, pertanyaan yang sama nongol lagi dan saya menjawab: karena saya lebih lancar berbahasa Arab dibanding bahasa Inggris”.

Sebagai penganggur saya sering dolan ke toko komputer atau mobile-phone (HP) untuk iseng-iseng belajar ikut nyervis. Itu kebiasaan saya sudah hampir 20 tahun. Selama berada di tempat servis itu saya berkata atau setidaknya saya ciptakan kesan kepada setiap teman di sana dan diam-diam kepada diri saya sendiri : “Saya sangat sibuk, acara saya sangat padat dan semua urusan besar, sehingga kalau ada luang waktu saya pergi ke sini agar hidup saya ada variasi. Juga tak baik selalu mengurusi masalah nasional, ada segarnya jika diselingi mengurusi masalah lokal”.

Nanti kalau saya sudah berada di rumah, saya tipu diri saya sendiri dengan memaksanya percaya bahwa: “Hari ini saya sudah sangat sibuk melakukan kegiatan yang kelihatannya kecil dan remeh, namun sesungguhnya itu fenomenologis, avant gard dan sekian langkah lebih kontemporer dibanding kebanyakan orang. Wakil Presiden atau anggota DPR saja kesana kemari bawa communicator tapi ngertinya paling pol cuma menelpon, kirim SMS dan menggunakan Word”.

Saya adalah penghuni utama era peradaban informasi dan komunikasi. Saya rekannya Bill Gate dan komunitas perkebunan Nokia”. Alasan yang sesungguhnya jelas: kalau berteman dengan orang komputer dan HP, kalau beli dikasih murah. Alasan yang nyata dari kenapa saya tidak tampil dengan KK di Mesir dan Aussie sudah dimafhumi semua orang bahwa saya memang tidak becus bermusik, tak bisa nyanyi, apalagi memetik gitar atau sekedar memukul saronpun. Tetapi toh saya cukup pandai untuk berlagak: setiap kali KK mendapatkan a long standing ovation, tepuk tangan panjang sambil berdiri dan meminta persembahan dilanjutkan - saya sigap berlari ke panggung dan ikut berbaris dengan KK.

Orang yang tak punya peran harus pintar-pintar “caper” (cari perhatian). Kalau artis atau Menteri diwawancarai di tengah keramaian, Anda harus segera menerobos untuk menongolkan wajah Anda di kiri-kanan Menteri agar tampak di kamera. Setelah itu kalau ada wartawan terjebak jalan sesat dengan mewawancarai Anda, perlu Anda susun kalimat-kalimat yang menimbulkan kesan bahwa seluruh prestasi itu bermula dari tangan jenius Anda. Hindarkan kejaran cerdas wartawan yang mau bukti, terus cocor saja image self building diri dikau. Kita sedang hidup di tengah “masyarakat kesan”, di tengah “bangsa kayaknya”, The Image Society, bukan masyarakat realitas. Kita memilih presiden berdasarkan kesan, bukan pemahaman tentang kenyataan. Kita juga bisa “membunuh” orang lain yang tak pernah berususan dengan kita cukup dengan membangun kesan tentang dia dalam hati kita sepanjang hidup. Mampuslah dia.

Dan di toko-toko komputer dan mobile-phone itu realitas yang sebenarnya adalah bahwa saya seorang penganggur, dan terus tetap penganggur sampai usia lewat setengah abad sekarang ini. Tetapi penganggur jangan berpuas diri sebagai penganggur. Penganggur harus punya lagak. Rugi kalau Anda menganggur lantas tampil rendah diri. Bodoh kalau Anda miskin lantas hati bersedih dan kalau berjalan tidak tegak dan wajah tidak menunjukkan kepercayaan diri. Sudahlah miskin, minder dan merasa sengsara pula. Yang terbaik bagi orang miskin yang penganggur adalah fenomena sikap “gemlelengan”, atau bahasa jalanannya “cengengesan”. Jadi, sampailah kita pada Gundul Pacul.

Gundul itu botak. Pacul itu cangkul. Tak ada kaitan literer antara gundul dengan pacul dalam idiom Jawa gundul pacul. Itu peng-enak-an bunyi belaka. Tak perlu ditafsirkan bahwa kepala kita menjadi botak sesudah dicangkuli oleh tetangga. Paralel dengan istilah “uuwakehe suwidak jaran”, banyaknya sampai 60 kuda. Tak usah dihitung berdasar angka 60. Atau “malam seribu bulan”, belum tentu pas kalau Lailatul Qodar Anda hitung melalui jumlah hari, jam, menit dan detik dalam seribu bulan. Idiom Allah itu lebih bersifat kualitatif: kara “seribu” menggambarkan hampir tak terbatasnya peluang pemaknaan di balik idiom itu. Juga bersifat dinamis, bergantung pada pola pergerakan hubungan antara Tuhan dengan hamba-Nya.

Gundul Pacul mungkin menggambarkan karakterisasi anak, pemuda, atau manusia tertentu - memalui mata pandang dan rasa budaya Jawa. Gundul pacul adalah anak yang nakal pol, mblunat, mbethik, mbeling, susah diatur, berlaku seenaknya sendiri. Main sana main sini, teriak sana teriak sini, ambil makanan siapa saja di meja senafsu-nafsu dia, pergi ke sungai dan mandi bluron sampai kulitnya bersisik, lomba lari mengejar layang-layang putus sambil mengusap ingus. Intinya: punya bakat dan naluri anarkisme yang serius.

Di Arab jaman dahulu ada seorang pemuda bernama Nuaim yang heboh benar gundul paculnya. Tak ada kata Ibu Bapaknya kecuali ia bantah. Tak ada larangan orangtuanya kecuali ia langgar. Tak ada perintah mereka berdua atau bahkan siapapun kecuali ia tabrak. Pada suatu hari Bapaknya melihat Nuaim berjalan jauh ke tengah padang pasir. Bapaknya yang sangat berpengalaman tahu persis anaknya sedang ditunggu bahaya besar. Kalau Nuaim teruskan berjalan karah itu, ia akan ditipu oleh fatamorgana sehingga beberapa langkah kemudian ia akan terjerumus masuk pasir bergelombang dan ditelan bumi tanpa bekas.

Betapa gundul paculpun putranya, sang Bapak tetaplah mencintainya. Maka Bapaknya berteriak: “Nuaiiiim! Teruuuuus! Teruuuus!”.

Itu adalah sebuah metode empirikal berdasarkan pengalaman atas watak anaknya. Kalau dibilang “Stop”, maka ia akan terus, sehingga agar ia stop harus dibilang “Teruuuus!”. Akan tetapi subhanallah Nuaim siang itu mendapat hidayah dari Allah swt. Tiba-tiba ia bergumam dalam hati: “Ya Allah ampunilah kenakalanku yang selalu membantah dan menyakiti hati orang tuaku. Setidaknya satu kali ini perkenankan aku mematuhi perintah Bapakku”.

Anda tidak memerlukan keterangan lebih lanjut untuk mengetahui apa yang kemudian terjadi pada Nuaim. Dendangkanlah saja lagu kuno itu: “Gundul gundul pacul cul, gemelelengan….”.

Nakal tapi sok benar. Tak mau belajar tapi sok pandai. Kelakuannya seenaknya tapi sok suci. Tak punya apa-apa tapi gemelelengan, berlagak, petentang-petenteng. Tak becus menjadi pemerintah tapi tak punya rasa malu. Tak mampu berbuat apa-apa, bahkan menyusun kalimat sajapun tak lancar, tapi wajahnya tegak dan malah merasa bangga - itu persis saya yang tidak ikut pentas tapi nyerobot ikut menyongsong standing ovation di panggung pertunjukan.

Sudah terbukti tak punya kemampuan managerial mengurusi ummat, tapi merasa pantas dicium tangannnya. Sudah jelas kerjanya hanya berkonsentrasi menghimpun sogokan-sogokan uang, tapi tetap meyakini bahwa dirinya ada wakil rakyat. Sudah jelas bahwa pejabat itu buruhnya rakyat, malah berperilaku seakan-akan ia boss-nya rakyat. Sudah dilalapnya gaji dari uang rakyat, ditambah uang curian ribuan kali lipat gajinya, tetap saja tidak mau tahu bahwa yang menggaji adalah boss, yang digaji adalah buruh. Sudah jelas rakyat mau berkorban membiayai triLyunan rupiah untuk institusi yang kerjanya adalah menghimpun kekayaan pribadi dan memecah belah rakyat, tetap saja mereka tidak pernah mengakui bahwa hidupnya telah salah niat dan berpikiran sesat.

Yang seharusnya butuh belajar, malas belajar. Yang rajin belajar, keliru memilih apa yang dipelajari. Yang tak salah menemukan sesuatu yang dipelajari, salah caranya mempelajari. Yang jelas-jelas maling puluhan tahun dijunjung-junjung, dibukakan akses dan ekspose. Yang tak ikut apa-apa, yang mencari makan sendiri di liang-liang tikus di hutan rimba, malah dipentaskan sebagai maling nasional, dan itu diumumkan setiap siang dan malam, minimal di ruang-ruang dalam hati masing-masing. Sungguh ada perbedaan sangat serius, mendalam dan ideologis antara Indonesia Karangan alias Indonesia Kesan, dengan Indonesia Kenyataan. Memilih lagu yang sehat saja kita tak becus, bagaimana memilih Presiden.

Yang tak benar-benar mengerti Agama, sangat canggih memperdagangkan Agama. Yang mengerti Agama malah bersedia menjadi budak dari pedagang Agama. Yang pelawak dan penyinden yakin bahwa merekalah presenter utama pekerjaan dakwah, sementara yang kiai dan ulama bersedia menjadi pekatiknya pelawak dan penyinden di lapangan dakwah. Yang baik moralnya, bodoh otaknya. Yang pandai akalnya, jahat hatinya. Yang intelektual, tak mampu bekerja. Yang sanggup bekerja, tidak pernah mau belajar. Yang berhasil menjadi manusia baik dan pandai, pengecut mentalnya. Reformasi berlangsung sampai busuk sebusuk-busuknya sampai tak terhitung jauhnya melampaui kebusukan-kebusukan yang pernah dicapai oleh sejarah bangsa ini, tapi tak seorangpun siap ambil oper menanggung malu moral, malu mental, malu intelektual, apalagi malu spiritual. Dasar gemelelengan! Cengengesan!

Anda mengerti kalimat berikutnya dari lagu kuno itu: “Nyunggi nyunggi wakul kul, gemelelengan….”. Nyunggi adalah membawa sesuatu dengan meletakkannya di atas kepala. Yang di-sunggi adalah wakul. Bakul tempat nasi. Nasi adalah amanat kesejahteraan rakyat, kepercayaan sangat mahal untuk menciptakan masyarakat adil makmur. Bakul adalah otoritas, legalitas dan legitimasi kepemerintahan, yang ditempuh dan dipersembahkan oleh rakyat dengan biaya yang sangat mahal: uang raksasa jumlahnya, perpecahaan massa, nyawa-nyawa melayang, kebodohan berkepanjangan dan ketidak-sungguhan hidup bernegara dan berbangsa yang bertele-tele.

Bakul tempat nasi itu tak sekedar ditenteng dengan tangan, apalagi ditaruh dalam rangsel di belakang punggung. Amanat itu sedemikian tinggi dan sakral maknanya sehingga diletakkan diatas kepala. Ditaruh di lapisan harkat yang lebih tinggi dari kepala individu kita sendiri. Diposisikan pada derajat yang lebih mulia dibanding kepentingan diri sendiri, golongan dan apapun saja dalam skala kehidupan berbangsa dan bernagara. Nyunggi wakul itu pekerjaan paling mulia. Dan dalam pekerjaan nyunggi wakul itu tetap saja kita bertindak gemelelengan. Tetap saja kita berlagak-lagak. Tidak sungguh-sungguh. Akting sana akting sini. Palsu luar, palsu dalam. Fooling around. Berbodoh-bodoh berdungu-dungu beriseng-iseng dulu, kemarin, hari ini dan besok. Politik kita permainkan. Kesakralan kata “rakyat” kita manipulasikan. Moral dan nurani kita remehkan. Agama kita akali. Tuhan kita tipu.

Akhirnya - “Wakul ngglimpang, segane dadi sak latar….”. Bakul amanat kesejahteraan rakyat itu terjatuh dari kepala kita, tercampak di tanah, nasinya tumpah dan berceceran di halaman negeri indah ini. Seharusnya padi ditumbuh-kembangkan, nasi didistribusikan dalam keadilan. Tapi ini tumpah dan berceceran.

Tampaknya langkah kita sekarang adalah berteriak kepada “Nuaim” yang berjalan menuju jurang: “Teruuuuus! Teruuus!”. Tapi mungkin ternyata Nuaim itu adalah kita sendiri yang gundul pacul, fooling around, cengengesan…

Membaca dan Selimut

KIAI Sudrun berkata kepada cucunya, seorang sarjana yang baru saja diwisuda.

“Di zaman dahulu kala terdapatlah makhluk yang bernama Kebudayaan Barat. Pada masa itu tak ada barang di muka bumi ini yang dikutuk orang melebihi kebudayaan barat sehingga ia dianggap sedikit saja lebih baik dari anjing kurap. Pada masa itu pula tak ada sesuatu pun dalam kehidupan yang dipuja orang melebihi kebudayaan barat sehingga terkadang ia melebihi Tuhan.”

“Ini kisah aneh apa lagi?” bertanya sang cucu.

“Kaum Muslim pada waktu itu sedang mencapai puncak semangatnya untuk memperjuangkan agamanya, menemukan identitas dan bentukan kebudayaannya sendiri”, si kakek melanjutkan, “akan dipandanglah kebudayaan barat itu oleh mereka dengan penuh rasa najis, serta dipakailah barang-barang kebudayaan barat itu dengan penuh rasa sayang dan kebanggan.”

“Lagi-lagi soal kemunafikan!”

“Tak penting benar soal kemunafikan itu dalam kisah ini.” jawab Kiai Sudrun,

“Setidak-tidaknya engkah sudah paham persis masalah itu, dan lagi yang hendak aku ceritakan kepadamu adalah soal lain.”

Sang cucu diam mendengarkan.

“Kaum Muslim pada waktu itu mempertentangkan Islam dengan kebudayaan barat seperti mempertentangkan cahaya dengan kegelapan atau malaikat dengan setan. Padahal sampai batas tertentu, para pelaku kebudayaan barat itu sendirilah yang dengan ketekunan amat tinggi melaksanakan ajaran Islam,”

“Kakek sembrono, ah.”

“Tak ada yang melebihi mereka dalam melaksanakan kewajiban Iqra’, meskipun kemudian disusul oleh sebagian bangsa-bangsa tetangganya. Tak ada yang melebihi mereka dalam kesungguhan menggali rahasia ilmu dan mengungkap kemampuan-kemampuan alam. Mereka telah membawa seluruh umat manusia memasuki keajaiban demi keajaiban. Mereka mengantarkan manusia untuk mencapai jarak tertentu dalam waktu satu jam sesudah pada abad sebelumnya mereka memerlukan perjalanan berbulan-bulan lamanya. Mereka mempersembahkan kepada telinga dan mata manusia berita dan pemandangan dari balik dunia yang berlangsung saat itu juga. Mereka telah memberi suluh kepada pengetahuan manusia untuk mengetahui yang lebih besar dari galaksi serta yang sejuta kali lebih lembut dari debu”.

“Dimuliakan Allahlah mereka”, sahut sang cucu.

“Benar”, jawab kakeknya, “kalau saja mereka meletakkan hasil Iqra’ itu di dalam kerangka bismi rabbikalladzi khalaq. Seandainya saja mereka mempersembahkan ilmu dan teknologi itu untuk menciptakan tata hidup yang menyembah Allah. Seandainya saja mereka merekayasa kedahsyatan itu tidak untuk penekanan dalam politik, pemerasan dalam ekonomi, sakit jiwa dalam kebudayaan, serta kemudian kebuntuan dan keterpencilan dalam peradaban”.

“Apa rupanya yang mereka lakukan?”

“Memelihara peperangan, mendirikan berhala yang tak mereka ketahui sebagai berhala, menumpuk barang-barang yang sesungguhnya tak mereka perlukan, pura-pura menyembah tuhan dan bersenggama dengan binatang”.

“Anjing kurap!” teriak sang cucu.

“Memang demikian sebagian dari Kaum Muslim, memaki-maki, tapi kebanyakan dari mereka bergabung menjadi pelaku dari pembangunan yang mengarah kepada kebudayaan yang semacam itu.”

“Munafik!” sang cucu berteriak lagi.

“Menjadi seperti kau inilah sebagian dari Kaum Muslim di masa itu. Dari sekian cakrawala ilmu anugerah Allah mereka mengembangkan satu saja, yakni kemampuan untuk mengutuk dan menghardik. Tetapi kemudian karena tak ada sesuatu pun yang berubah oleh kutukan dan hardikan, maka mereka pun pergi memencilkan diri; melarikan diri ke dalam hutan sunyi, mendirikan kampung-kampung sendiri - di pelosok belantara atau di dalam relung kejiwaan mereka sendiri. Mereka menjadi bala tentara yang lari terbirit-birit meninggalkan medan untuk menciptakan dunianya sendiri. Mereka ini mungkin kau sebut kerdil, tetapi sesungguhnya itu masih lebih baik dibandingkan kebanyakan orang lain yang selalu berteriak sinis “Kalian sok suci!” atau “Kami tak mau munafik!” sementara yang mereka lakukan sungguh-sungguh adalah kekufuran perilaku dan pilihan. Namun demikian tetaplah Allah Maha Besar dan Maha Adil, karena tetap pula di antara kedua kaum itu dikehendakiNya hamba-hamba yang mencoba merintis perlawanan di tengah medan perang. Mereka menatap ketertinggalan mereka dengan mata jernih. Mereka ber-iqra’, membaca keadaan, menggali dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan kesanggupan mengolah sejarah, sambil diletakkannya semua itu dalam bismi rabbi. Ilmu ditimba dengan kesadaran dan ketakjuban Ilahiyah. Teknologi ditaruh sebagai batu-bata kebudayaan yang bersujud kepada Allah”.

“Maka lahirlah makhluk baru di dalam diri Kaum Muslim”, berkata Kiai Sudrun selanjutnya, “Gerakan intelektual. Orang dari luar menyebutnya intelektualisme-transendental atau intelektualisme-religius, meskipun Kaum Muslim sendiri menyebutnya gerakan intelektual - itu saja - sebab intelektualitas dan intelektualisme Islam pastilah religius dan transendental”.

“Dongeng kakek menjadi kering….” sahut sang cucu.

“Itu iqra’ namanya. Gerakan iqra’ yang ketiga sesudah yang dilakukan oleh Muhammad dan kemudian para ilmuwan Islam yang kau ketahui menjadi sumber pengembangan kebudayaan barat”.

Sang cucu tak memrotes lagi.

“Akan tetapi mereka, Kaum Muslim itu, adalah - kata Tuhan - orang-orang yang berselimut. Mudatstsirun. Orang-orang yang hidupnya diselimuti oleh berbagai kekuatan tak bismi rabbi dari luar dan dari dalam diri mereka sendiri. Selimut itu membuat tubuh mereka terbungkus dan tak leluasa, membuat kaki dan tangan mereka sukar bergerak, serta membuat hidung mereka tak bisa bernafas dengan lega.”

Sang cucu tersenyum.

“Kepada manusia dalam keadaan terselimut itulah Allah berfirman qum! Berdirilah. Tegaklah. Mandirilah. Lepaskan diri dari ketergantungan dan ketertindihan. Untuk tiba ke tahap mandiri, seseorang harus keluar terlebih dahulu dari selimut. Ia tak akan bisa berdiri sendiri bila terus saja membiarkan diri terbungkus kaki tangannya serta terbungkam mulutnya.”

Sang cucu tersenyum lebih lebar.

“Firman berikutnya adalah fa-andzir! Berilah peringatan. Lontarkan kritik, teguran, saran, anjuran. Ciptakan kekuatan untuk mengontrol segala sesuatu yang wajib dikontrol.” Sampai di sini Kiai Sudrun tiba-tiba tertawa cekikikan, “Syarat untuk sanggup memberi peringatan ialah kemampuan untuk mandiri. Syarat untuk mandiri ialah terlebih dahulu keluar dari selimut. Namun pada masa itu, cucuku, betapa banyak nenek moyangmu yang tak memperhatikan syarat ini. Mereka melawan kekuasaan padahal belum bisa berdiri tegak. Mereka mencoba berdiri padahal masih terbungkus dalam selimut….” Tertawa Kiai Sudrun makin menjadi-jadi.

Disusul kemudian oleh suara tertawa cucunya, “Kakek luar biasa!” katanya, “Kakek memang cerdas luar biasa!”

“Apa maksudmu?” bertanya Kiai Sudrun di tengah derai tawanya.

“Kakek menirukan hampir persis segala yang kuceritakan kepada kakek tadi malam dari buku-buku kuliahku”.

Mereka berdua tertawa terpingkal-pingkal.

NAGINA


Dia memakai semua atribut kepalsuan. Meski sesungguhnya, dia jujur, tulus  dan seluruh ruang di hatinya dipenuhi rasa kemanusiaan. Wataknya halus, gampang tersentuh. Dia dermawan, suka menolong. Selalu bersikap ramah, sopan-santun terpuji, dan kata-katanya penuh keyakinan diri. Yang tak kenal dekat, akan menganggap pribadinya kuat. Padahal dia rapuh, mudah goyah. 
Dia memoles tubuh aslinya, bertentangan dengan wujud yang sudah ditakdirkan baginya. Gaun yang bagus, nampak mewah dan modis, dia beli dengan harga diskon di Butik Malibu, Raja Plaza. Itu sudah termasuk sepatu merah jambu dan tas tangan dengan warna senada. Wangi parfum yang menyengat, hadiah seorang pengagum, menyerbak dari badan. Semua yang lekat di tubuh, nampak diserasikan. Dia sadar, mode sanggup mengubah penampilan. Dan kepribadian bisa terangkat naik, membikin orang terkesan. 
Wig, bulu mata plastik lentik, coklat tua warna lipstik, dan pipi merah rona hasil polesan pabrik, melengkapi wajah. Dia memasang pantat palsu dan teteknya montok akibat suntikan silikon. Kulit putih bersih, lengan dan betis mulus, bulu-bulunya dia cukur setiap pagi. Tangan dan kaki terawat baik, juga kuku-kuku. Tentu, dia langganan setia Salon Herman Tandayu. Hidung mancungnya, hasil operasi tiga tahun lalu di Singapura dan dikontrol rutin tiga bulan sekali, nampak serasi dengan mulut dan pipi. 
Dia ingin jadi wanita. Padahal 30 tahun lalu dia lahir di Cirebon sebagai bayi lelaki. Tapi naluri kewanitaan, terpancar sangat menyerbu. Ibarat bah, sanggup membongkar cengkeraman cakar takdir. Tingkah lakunya sehari-hari cukup menjadi bukti. Dan kabar burung beredar, setahun setelah operasi hidung, dia muhibah ke Jepang untuk mengganti kelamin. Kini, tepatkah fungsi kelamin yang sudah dia ganti itu? Hanya Sang Pacar yang bisa membuktikan. Tapi, siapa pacarnya, jarang yang tahu. Kehidupan pribadinya tak minat dipublikasikan. Yang jelas, secara resmi dia memang belum menikah. Dan dia tidak mau melakukan nikah siri. Tapi, siapa dia itu sih? 
Namanya Nagina. Biasa dipanggil sesuai ejaan; Nagina. Tapi bisa juga dibaca menjadi Na-Jii-Naa. Mengapa namanya begitu, juga jarang yang tahu. Entah nama asli atau palsu, orang tahu dia enggan menyandang nama keluarga. Kalaupun ada tambahan, paling embel-embel miss di depan namanya. Naa, itu dia suka. Miss Na-Jii-Na. Ya, hati-hati, bukan Va-gii-na. Jangan salah eja. 
Malam ini dia berpraktek di rumahnya. Sejak 5 tahun yang lalu, dia dikenal sebagai peramal jitu. Di setiap jam praktek, ruang tamu dipenuhi puluhan klien yang antre menunggu giliran. Dan tak seorang pun yang tidak puas dengan layanan plus ramalannya. Tapi benarkah dia peramal jitu?
"Baik. Dari mana mulai? Nama sudah, catatan pribadi sudah, pekerjaan, umur, kota tempat lahir .. aaah ya, perkara ramal-meramal." 

"Tapi, mohon, please, apa yang saya omong, jangan dianggap pidato pengakuan. Orang yang suka mengaku, sering sok jujur. Artinya ya, tidak jujur. Banyak yang diungkap, tapi masih tetap banyak yang disembunyikan. Saya memilih, lebih baik apa adanya. Tuhan juga pasti paham, jika ada yang lupa atau sengaja tidak diungkap, bisajadi itu lantaran malu atau takut. Ya, jangan malu takut, jangan takut malu. Itu alamiah, manusiawi, hak asasi." 

"Praktek baru dibuka satu jam lagi, tapi di dalam sana sudah antre 20 langganan. Setiap hari, bisa tiga kali lipat dari jumlah itu. Untung, saya libur Sabtu dan Minggu. Simpan tenaga. Kalau tidak, habis enerji, tidak ada waktu untuk diri sendiri. Capek 24 jam mengurusi perkara orang lain. Pak Presiden saja dikasih libur untuk memancing dan bikin lagu pop, masa saya tidak? Menolong orang kewajiban. Istirahat, itu hak pribadi." 

"Kata orang, saya peramal jitu. Sebagian besar ramalan saya, memang tepat. Mungkin karena itu, setiap akhir tahun saya selalu diminta media massa untuk menulis ramalan tahun depan. Saya tulis atau ‘ngoceh di teve tanpa ragu. Dan konon, melesetnya cuma sekitar 15 persen saja. Selebihnya tepat. Tentu saja, guru saya adalah Nostradamus, Joyoboyo dan Ronggowarsito." 

"Apa yang saya ramal? Banyak. Berbagai hal. Semua sisi dari kehidupan manusia. Sos-pol-ek-bud-han-kamnas, Juga olahraga, kesenian, karier tokoh-tokoh, kesehatan, bisnis dan cinta. Ya, cinta dan bisnis. Tahun lalu, saya ramalkan akan lahir sapi dengan kaki lima. Dua bulan lalu terbukti. Saya ramalkan dua pasangan selebriti yang kelihatannya sangat serasi, terlibat skandal dan bercerai. Sebulan lalu terbukti. Saya ramalkan sebuah bank raksaksa bangkrut, nasabah dan negara dirugikan. Terbukti. Apalagi? Saya ungkap kenyataan, tahun ini adalah Tahun Corona. Tahun yang panas luar biasa, suhu alam maupun suhu politik. Ada dua bintang besar di salah satu gugusan tata surya yang menyatu garis orbitnya. Lagi-lagi terbukti." 

"Gelombang panas menghantam Amerika dan Eropa. Tsunami di mana-mana. Kriminalitas meningkat, suhu politik di berbagai negara berubah-ubah sulit terbaca. Dua presiden dikudeta, satu dimakzulkan dan turun tahta, pers mendadak ekstra galak, buruh bergolak, demonstrasi terjadi hampir setiap hari, koalisi pecah, resafel kabinet. Dunia kacau, bumi gonjang-ganjing."  

"Salju jatuh di benua Afrika. Bukan di puncak Gunung Kilimanjaro tapi di padang gurun yang sangat gersang. Israel dan India ‘ngotot ingin ujicoba senjata nuklirnya, persekutuan negara barat berkeberatan. Kebudayaan mulia merosot eksistensi dan kualitasnya diganti secara provokatif oleh budaya slogan dan produk serba instan. Para pejabat memang makin banyak yang gemar melukis dan baca puisi, tapi teater mati suri, karena pemerintah tidak peduli. Film nasional meningkat produktivitasnya tapi didominasi oleh lawak-konyol dan horor picisan. Televisi diserbu telenovela yang kisahnya melulu perselingkuhan dan musik dangdut mulai kehilangan penggemar.
Ini zaman orang sulit membedakan arti antara: polisi, polusi, kolusi, korupsi, ilusi, somasi dan solusi. Juga sulit dibedakan arti antara kartel dan wartel, antara mosi dan asi, antara nespot dan pispot, antara failing kabinet dan kabinet yang failed. Antara makzul dan bergajul. Antara begal, bengal, kental, kenyal, legal dan cekal. Antara kutang dan hutang, antara fasilitas dan obesitas, antara dialog dan monolog. Lihat, perhatikan! Para pejabat lebih suka bermonolog, menghindari dialog. Dan para politikus lebih sering bermimpi jadi selebriti dibanding memikirkan kesejahteraan rakyatnya." 

"Banyak orang besar mati, tulis saya tahun lalu. Terbukti. Pernah dalam dua bulan, tujuh kali saya memakai pakaian hitam tanda berkabung. Dalam setahun, dua kali saya mengibarkan bendera setengah tiang. Saya memang peramal jitu. Hanya saja, saya tak mampu meramal diri sendiri. Itu sering bikin prihatin. Saya tidak sanggup mencari tertuduh perkara pembunuhan atau perkosaan, kejahatan yang semakin banyak terjadi belakangan ini. Saya juga tak sanggup memberitahu tempat persembunyian para koruptor yang buron. Begitu saya paksakan, mata batin saya langsung berubah hitam sehitam-hitamnya, mata berkunang-kunang, saya limbung." 

"Tapi anehnya, saya pinter mendatangkan, apalagi mengusir hujan. Orang menyebut saya ‘pawang hujan’. Ya, saya itu. Saya bersahabat dengan matahari, angin, awan dan air langit atau hujan. Cuaca adalah karakter alam yang mudah ditebak. Apa saja yang saya minta, selalu dikabulkan. Minta hujan, pasti hujan. Minta panas, panas. Semua tergantung order dan nilai tukar mata uangnya. Tak perlu malu, yang penting hasilnya bermutu." 

"Mengapa saya pinter meramal? Dan kenapa saya yang dikasih anugerah kepintaran meramal? Padahal, kata banyak orang, saya ini cacat. Tidak sempurna. Pembangkang takdir. Penghujat irama alam. Tubuh dan jiwa saya ganda, mendua. Saya warga masyarakat kelas dua, yang kalau sudah kebelet kencing di bioskop suka bingung harus masuk pintu WC yang mana: pria atau wanita. Mereka bilang, saya biang penyakit dan tidak layak dipercaya." 

"Tapi mengapa mereka datang kepada saya, padahal saya sering tidak diakui sebagai wanita? Saya banci, kata mereka yang gemar membenci. Saya waria, tuduh mereka yang tidak suka. Lihat baik-baik! Semua ini palsu. Hidung, mata, pipi, susu, paha, pantat. Palsu. Kalau tidak percaya, saya copot semuanya. Untuk membuktikan. Tidak perlu? Perlu? Perlu? Oo, tidak perlu, sebab bisa kena jerat pasal UU Pornografi yang penuh kontroversi itu. Baik. Tidak perlu. Terimakasih. Lebih baik percaya saja, saya ini palsu. Titik." 

"Tapi, tolong kasih tahu saya, mengapa mereka tetap datang dan minta bantuan? Dan mengapa tetap saya ladeni? Mengapa mereka tidak meminta bantuan kepada peramal lain? Banyak peramal yang lebih jago dari saya." 

"Dulu, saya banci jalanan. Lima tahun. Cari uang, jadi pelacur. Langganan luber, karena servis bagus. Teknik main cinta saya, kata semua langganan, tergolong prima. Jangan salah, prima. Bukan primata. Apa saja permintaan langganan, oke, saya berikan. Mau main cara apa saja, oke, saya layani. Dan saya ikut oke juga. Ikut nikmat juga. Bener. Tidak bohong."

"Maaf, kalau terpaksa buka rahasia dapur. Tapi, akhirnya saya jadi buruan banyak lelaki hidung belang. Dicari-cari, dikejar-kejar, diuber-uber. Mereka sebut saya ‘Kembang Taman Krakatau’, ‘None’ sekaligus ‘Abang Jakarta’ swasta. Bangga juga. Tiga judul direbut sekaligus. ‘Three in one’. Banci lain mana mampu menyandang 3 judul? Beneran. Tidak bohong. perhatikan! Para pejabat lebih suka bermonolog, menghindari dialog. Dan para politikus lebih sering bermimpi jadi selebriti dibanding memikirkan kesejahteraan rakyatnya." 

"Banyak orang besar mati, tulis saya tahun lalu. Terbukti. Pernah dalam dua bulan, tujuh kali saya memakai pakaian hitam tanda berkabung. Dalam setahun, dua kali saya mengibarkan bendera setengah tiang. Saya memang peramal jitu. Hanya saja, saya tak mampu meramal diri sendiri. Itu sering bikin prihatin. Saya tidak sanggup mencari tertuduh perkara pembunuhan atau perkosaan, kejahatan yang semakin banyak terjadi belakangan ini. Saya juga tak sanggup memberitahu tempat persembunyian para koruptor yang buron. Begitu saya paksakan, mata batin saya langsung berubah hitam sehitam-hitamnya, mata berkunang-kunang, saya limbung." 

"Tapi anehnya, saya pinter mendatangkan, apalagi mengusir hujan. Orang menyebut saya ‘pawang hujan’. Ya, saya itu. Saya bersahabat dengan matahari, angin, awan dan air langit atau hujan. Cuaca adalah karakter alam yang mudah ditebak. Apa saja yang saya minta, selalu dikabulkan. Minta hujan, pasti hujan. Minta panas, panas. Semua tergantung order dan nilai tukar mata uangnya. Tak perlu malu, yang penting hasilnya bermutu." 

"Mengapa saya pinter meramal? Dan kenapa saya yang dikasih anugerah kepintaran meramal? Padahal, kata banyak orang, saya ini cacat. Tidak sempurna. Pembangkang takdir. Penghujat irama alam. Tubuh dan jiwa saya ganda, mendua. Saya warga masyarakat kelas dua, yang kalau sudah kebelet kencing di bioskop suka bingung harus masuk pintu WC yang mana: pria atau wanita. Mereka bilang, saya biang penyakit dan tidak layak dipercaya." 

"Tapi mengapa mereka datang kepada saya, padahal saya sering tidak diakui sebagai wanita? Saya banci, kata mereka yang gemar membenci. Saya waria, tuduh mereka yang tidak suka. Lihat baik-baik! Semua ini palsu. Hidung, mata, pipi, susu, paha, pantat. Palsu. Kalau tidak percaya, saya copot semuanya. Untuk membuktikan. Tidak perlu? Perlu? Perlu? Oo, tidak perlu, sebab bisa kena jerat pasal UU Pornografi yang penuh kontroversi itu. Baik. Tidak perlu. Terimakasih. Lebih baik percaya saja, saya ini palsu. Titik." 

"Tapi, tolong kasih tahu saya, mengapa mereka tetap datang dan minta bantuan? Dan mengapa tetap saya ladeni? Mengapa mereka tidak meminta bantuan kepada peramal lain? Banyak peramal yang lebih jago dari saya." 

"Dulu, saya banci jalanan. Lima tahun. Cari uang, jadi pelacur. Langganan luber, karena servis bagus. Teknik main cinta saya, kata semua langganan, tergolong prima. Jangan salah, prima. Bukan primata. Apa saja permintaan langganan, oke, saya berikan. Mau main cara apa saja, oke, saya layani. Dan saya ikut oke juga. Ikut nikmat juga. Bener. Tidak bohong."

"Maaf, kalau terpaksa buka rahasia dapur. Tapi, akhirnya saya jadi buruan banyak lelaki hidung belang. Dicari-cari, dikejar-kejar, diuber-uber. Mereka sebut saya ‘Kembang Taman Krakatau’, ‘None’ sekaligus ‘Abang Jakarta’ swasta. Bangga juga. Tiga judul direbut sekaligus. ‘Three in one’. Banci lain mana mampu menyandang 3 judul? Beneran. Tidak bohong."

"Kalau tidak percaya, tanya mereka. Banyak kawan se-angkatan yang masih hidup. Bisa ditanyai. Mereka ada yang masih cabo jalanan. Meski ada yang insyaf, buka jahitan atau salon. Ada juga yang jadi tukang ojek, buka usaha roti bakar dan bur-cang-jotam (bubur kacang hijau dan hitam), buka kios pijit tradisional. Kami tidak putus hubungan. Saya sering bantu kalau mereka kesulitan uang. Saya mendirikan koperasi simpan pinjam. Saya buka butik ala kadar, menyewakan rok-blus lengkap asesorisnya. Harganya, nauudzubillah minzalik, murah nian. Namanya juga subsidi. Ini swadaya. Bukan bantuan pemda. Sampai sekarang saya tetap bantu sebisanya semua kawan yang dulu senasib sepenanggungan. Saya wajib ‘bantu mereka."

"Demi Langit, saya tidak pernah menyembunyikan latar belakang. Untuk apa? Dan mereka juga tidak saya larang, kalau minat cerita, betapa kacaunya saya semasa gitacinta di SMA itu. Saya tekad; jangan melupakan sejarah, ya ‘kan? Pamali. Bisa dikutuk donya. Ingat! Jasmerah: jangan suka menjilati darah. Eh, salah, ‘Jangan siksa si baju merah’. Salah lagi. Pokoknya begitu. Tapi sekarang sudah jadi Jasbiru ya? ‘Jangan sampai bibirmu ungu’. Hauss .. "

"Aduh, aduh, kalau sudah larut begini, pasti lenyap itu kewibawaan dan jadilah, keluar lagi itu watak cabo recehan di zaman dinosaurus dahulu."

(BIKIN POSE-POSE MENGGODA SEPERTI SAAT MASIH MEJENG DI JALANAN, SAMPAI AKHIRNYA JENGAH SENDIRI).

"OeMJi. Sudah-sudah. Stop. Stop. Jaim. Jaga imij. Bek tu de poin: perkara kebisaan saya meramal. Perkara kerja saya yang sekarang. Ah, tapi lima tahun di jalanan, memang sulit dilupakan, sudah sangat melekat. Stop atuh, eneng, abang .. ya gitu. Jaim, bo! 
Semua langganan, yang sudah kumpul berjejalan di ruang tunggu sana itu, tahu asal-muasal saya. Saya datang dari comberan, dari kawasan yang sering dianggap sebagai bak-sampah masyarakat. Saya penyakit menular, wabah, yang memang dianggap pantas untuk dibasmi. Tapi siapa sangka, rasanya mereka tak peduli masa lalu saya. Mereka lebih butuh ramalan dibanding biodata, curiculum vitae. Dan saya bahagia, karena saya diterima. Kalau saya menyapa, ‘Hallo ibu, tante, mbak, kok makin langsing saja. Diet apa?’, mereka senang sekali dan senyumnya langsung mengembang." 

"Saya biasa menyapa ramah, ‘Apa kabar? Anda kelihatan bercahaya dan wangi. Pakai parfum apa? Beneran, saya mencium bau harum yang nikmat begitu Anda masuk ruangan ini’. Mereka langsung merasa nyaman dan berteman. Lalu saya bilang lagi, ‘Baik. Jadi, ada problem apa? Apa yang saya bisa bantu? Ingin tahu apa? Tapi cerita ya? Jangan ada yang disembunyikan, jangan sampai ada yang ditahan-tahan, nanti bisa kena sakit niir. Mereka senang. Berbuka hati, brubul-brubul, semua diceritakan tanpa malu. Kadang saya sampai pusing karena begitu banyak yang harus diingat; nama-nama orang, nama tempat, jam, tanggal, bulan, tahun .. bujubuneng banget."

"Tujuh tahun lalu, saya menerima anugerah itu. Kekuatan itu. Pangsit itu. Ya, pangsit. Aduh, sering banget slip of the tongek. Tapi, memang ini zaman sulit membedakan arti antara: pangsit, wangsit, wasit, pangsus, pansus, kasus, sassus .. Tapi, paham ya, apa yang dimaksud? Intinya, anugerah itu."

"Bagaimana prosesnya, saya sudah lupa. Saya cuma ingat, waktunya hampir jam empat pagi. Saya barusan meladeni langganan yang kesembilan, langganan yang minta posisi aneh-aneh tapi bayarannya sangat bagus. The Last Lelaki on The Road. Saya barusan cebok di pinggir kali. Aduh, kasar lagi, maksud saya bukan cebok, tapi cuci badan bagian bawah. Mendadak ada mercon, eh, maksud saya, cahaya, jatuh di kali depan saya. Kurang ajar, setan belang, sambel asem, begok, bangsaaat, apaan itu? Saya kaget bukan main. Mercon, eh, cahaya, apaan itu? Siapa jail begini? Amper subuh lagi? Jahat banget sih, keterlaluan bercandanya. Canda preman itu." 

"Tapi, waktu saya tengok kanan-kiri, saya heran. Mercon, eh, cahaya, dari mana? Siapa jail? Sepi begini. Tidak ada orang lain, cuma saya dan sungai. Memang ada centeng dan cabo-cabo lain, tapi sudah pada ‘ngorok semua. Dengkurnya malah kedengaran sampai Tugu Monas. Betul. Gila. Bikin takut." 

"Terus, apa-apaan ini? Sinar. Cahaya. Ya, cahaya di permukaan air kali. Lalu ada kepala bayi di situ. Kalau ingat lagi kejadian waktu itu, aduh, berdiri bulu ibukota Itali saya. Bujubuneng. Kepala bayi. Dan bisa ‘ngomong, lagi."

"Kalau tidak salah, dia panggil nama saya; Nagina. Lupa saya. Dia panggil saya Nagina atau Najina atau Najima. Yang jelas bukan Vagina. Tapi rasanya sih, Nagina atau Najina. Pokoknya itu yang saya ingat. Padahal itu bukan nama saya. Waktu itu nama saya Wince. Nama komersil, nama jabatan. Ya, singkatan modern dari nama katepe; Harwindo. Naa, saya ingat, dia bilang lagi; ‘Sudah waktunya kamu berguna untuk orang lain’. Gile, mampus saya. Kejadiannya persis seperti adegan film. Mistis. Dramatis. Misteri abiis .."

"Naa, ya kan? Yang bener saja. Apa saya sekarang tidak berguna bagi nusa dan bangsa? Kan kerja saya membikin banyak orang pada senang badan dan hatinya? Paling tidak nafsu jalang mereka terpuaskan dan tidak berujung negatif, misal memperkosa orang tidak berdosa. Saya berguna, tahu? Ibarat air saya ini pelepas dahaga. Ibarat nasi saya pelepas lapar. Tapi, karena takut, itu semua saya ucap dalam hati. Mana bisa omong, orang bibir pada kaku. Mata melotot dan telapak kaki kayak dipantek di tanah. Saya jadi patung, bo. Bukan patung Selamat Datang di HI itu, tapi patung begok, coy."

"Eh, dia bilang lagi; ‘Pergi kamu dari sini dan tolonglah orang lain!’ Sudah itu, sudah. Dia hilang. Langit gelap lagi. Permukaan air kali hitam lagi. Saya bingung. Saya merenung. Itu instruksi macam apa? Lagian, siapa dia? Bayi ajaib dari mana? Kok, gak jelas konsepnya. Ya memang gak jelas, kayak instruksi sutradara karbitan di sinetron-sinetron kita. Bagaimana judulnya? Berguna untuk orang lain? Lalu apa jenisnya? Terus, caranya? Tapi jelasnya ya memang cuma begitu itu. Cuma dua kalimat. Dan kalimat kedua, dia suruh saya pergi dari tempat mesum ini. Mengapa? Supaya bisa berguna untuk orang lain. Bagaimana caranya? Itu yang tidak dikasih tahu. Busyet .."   

"Sesudah itu, beneran, saya sakit panas, sebulan. Setiap malam saya mengoceh tidak keruan. Kata teman-teman, saya suka bicara sama mahluk yang tidak kelihatan. Hantu dong, yang saya ajak omong. Iya, memang. Dan kata mereka lagi, mata saya suka melotot, kayak lihat yang gaib-gaib begitu. Tuh, tuh, berdiri lagi deh, bulu ibukota Itali saya …"

"Tapi, sesudah sembuh, mata saya jadi lebih terang. Kalau lihat orang, saya pasti lihat juga dimensi lain di belakang orang itu. Atau semua benda dan mahluk yang jadi bayangannya atau yang membayangi dia. Saya bisa lihat sejelas-jelasnya. Anehnya, apa yang saya omong, padahal cuma ceplas-ceplos, mendadak dipercaya orang dan kata mereka, terjadi, banyak yang persis. Dari mana saya mendapat kekuatan itu, sumpah mati, saya tidak tahu. Dari kepala bayi di sungai itu barangkali. Dari siapa lagi, ya ‘kan?" 

"Begitulah riwayat kenapa saya jadi tokoh nasional dan sangat dibutuhkan. Tapi, terus terang, hidup kayak gini, capek banget. Lima tahun mengungkap kutukan. Dan tidak boleh salah. Melenceng sedikit saja, orang langsung bawa golok. Saya suka ngeri, tapi gak bisa lari. Ya, lagian mau lari ke mana? Muka sudah dikenal karena sering muncul di televisi, di koran dan majalah. Banyak orang, dengan berbagai cara, coba-coba cari kesempatan supaya bisa saya ramal. Tapi saya bener-bener capek melihat masa depan kita yang semakin gelap. Pengen stop. Bisa tolong saya? Please. Ah, nasib .. nasib .." 

(SUARA BEL BERDERING, PERTANDA PRAKTEK MERAMAL DIBUKA)

"Aduh, habis waktunya kita kongkow. Saya harus buka warung. Kalau tidak, bisa didemo. Permisi. Kalau ada sumur di ladang, besok kita sama-sama mandi .. tuh ‘kan ‘slip of the tongek’ lagi. Kebiasaan buruk. Maaf, para klien sudah menunggu. Kalau di situ mau, silakan datang kepadaku, nanti aku kasih tahu apa yang situ ingin tahu. Goodbye. Sampai jumpa. Ciao."

"Tidak ada yang dramatis, tragis, filosofis, apalagi politis. Cerita biasa, iklan tentang kualitas produk dibumbui banyolan pinggir jalan dan sedikit horor. Nagina, Na-Jii-Naa dan saya, sama saja. Jadi, tidak ada yang perlu diperdalam atau dipelajari. Ini cuma bagian cerita dari rangkaian hidup biasa. Begitulah kenyataannya. Begitulah nyatanya.  
Tapi lihat, perhatikan baik-baik! Hari ini, dengan segala maaf, saya libur meramal. Saya capek mengungkap kutukan. Kenyataan harus dibukakan. Kita sudah di pinggir jurang. Lihat! Saya copoti semua yang palsu. Saya copoti satu-satu. Satu-satu. Sudah waktunya saya membuang topeng-topeng dan kepalsuan. Tak guna terus dipertahankan. Sudah waktunya semua kepalsuan dibuang. Sudah waktunya. Buang! Buang!"

Profesor Prodo Imitatio


Salam Imitatio! Viva Profesores Prodo! ihi..ihi...ihi.....

Panggil saja aku Prodo Imitiato! ihi..ihi..ihi.....

Saudara-saudara jangan heran dan takjub. Ini dunia sandiwara. Di sebuah negeri yang pendidikannya berseri-seri. Di sebuah negeri yang orang-orangnya penuh nafsu pada gelar. Terutama gelar kesarjanaan. Manakala untuk memperoleh gelar itu sulit, harus bersusah payah, kerja keras, berkorban waktu, pikiran dan tenaga serta dana. Munculah seorang dewa penolong yang siap memberi gelar dari S1-S2-S3, bisa apa saja dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, segala sesuatu yang menyangkut pemberian gelar diselesaikan dengan sejumlah uang, untuk wisudanya di hotel berbintang. Ihi..ihi..ihi.....

Saudara-saudara, uang adalah alat pembeli gelar yang paling ampuh dan dahsyat.  Siapa dewa penolong itu?
ihi..ihi..ihi.....

That’s Me!
ihi..ihi..ihi.....

Saudara-saudara, kitab-kitab ini adalah buku-buku tebal yang sengaja kususun bersama Tim dari universitasku, coba lihat,  ada kitab 1000 gelar, ada kitab kiat-kiat jual beli gelar, masa depan cemerlang bersama Prodo Imitatio, seni berfikir negatif, dll.  Kitab-kitab tebal ini kalau disusun dapat jadi tempat duduk. 
(MENYUSUNNYA DAN LALU MENDUDUKINYA)

Siapa berkenan pesan hubungi saja University Of Zuzulapan yang pusatnya di Amarakua, tetapi cabangnya ada di sini, ya aku sendiri Prodo Imitatio rektornya! ihi..ihi..ihi.....

Saudara-saudara pasti penasaran bagaimana bisa orang-orang beli gelar? Dengan mudah aku jawab, bisa! Mengapa tidak ? Akan aku jelaskan mengapa ?
Negeri yang pendidikannya berseri-seri ini orang-orangnya rindu akan gelar kesarjanaan. Mari kita lihat sejarah negeri ini.

(MENGAMBIL GAMBAR DARI KOPER, GAMBAR RAJA TENGAH MEMBERI GELAR PADA PENGIKUTNYA DALAM SEBUAH UPACARA)

Lihat ini baik-baik saudara, dulu di zaman raja-raja hidup, sebagai penghargaan pada para pengikutnya, dia memberikan gelar dan kedudukan. Para pengikutnya menjadi hormat dan bermartabat.

(LALU MENYIMPAN KEMBALI DAN MENGGANTI DENGAN GAMBAR YANG LAIN. GAMBAR BANGSA ASING SEDANG MEMBERI GELAR PADA BUMIPUTRA)

Lihat baik-baik, ini di masa penjajahan bangsa asing. Untuk menggoda para bumiputra supaya merasa terhormat. Mereka memberi gelar pada siapa saja yang punya uang, gelar itu melekat dan orang itu merasa menjadi  bangsawan, menak, raden, padahal tidak. Konon dulu di tanah sunda ada sebutan Raden Sabenggol Sakancing Bedol, maksudnya dia membeli gelar harganya satu benggol, pakaiannya penuh kancing emas imitasi. Kalau ditarik sekali saja rontok. ihi..ihi..ihi.....

Jadi sebenarnya aku pelanjut tradisi-tradisi itu, Tradisi raja dan penjajah dulu. Saudara-saudara tahu? setelah pendidikan menjadi kebutuhan di negeri yang pendidikannya berseri-seri ini, sejumlah perguruan tinggi berdiri, program S1-S2-S3 pun banyak, ibaratnya mendaki gunung tinggi dengan susah payah, peluang itu muncul bagiku yang dibesarkan dengan penuh kemanjaan. Mengapa kemanjaan? Orang tuaku kaya raya. Akhirnya aku malas.

Setiap pagi ibuku selalu teriak : "Nak, ke sekolah sayang, hari sudah siang!" 

Aku tidak menjawab, sebaliknya selimutku kutarik menutup wajah, waktu itu matahari sudah terang di anak jendela kamar.

Ibuku kembali bersuara dari luar kamar : "Ya sudah sayang, nanti mama kontak kepala sekolah bahwa kamu sakit."

Aku tersenyum dalam selimut. Akhirnya menjadi malas sekolah, tapi naik kelas, ingin dan harus. Kalau tidak aku malu. Jadilah uang orangtua meradang, menyerang kesana kemari membabi buta, hasilnya ternyata tidak sia-sia! ihi..ihi..ihi.....  

Aku naik kelas, dikatrol dari mulai sekolah dasar, sekolah lanjutan pertama, sekolah lanjutan atas, perguruan tinggi, aku hidup dengan irama uang yang meradang-radang di mana-mana, jadilah aku seorang sarjana yang lulus karena permainan uang! ihi..ihi..ihi.....

Tetapi aku tak siap menerima tantangan, ketika harus bersaing menjadi seorang doktor dan guru besar, aku gagal total, aku meminggirkan diri pelan-pelan, dan bergabung dengan University of Zuzulapan dari Amarakua. Sejumlah orang yang mencari keuntungan lewat jual beli gelar, karena gelar memang dicari demi gengsi, diburu demi sesuatu.
Kebetulan aku salah satu pemilik saham terbesar dalam bisnis gelar ini, maka dengan mudah kedudukanku sebagai rektor perguruan tinggi cabang dari Amarakua itu. Semakin gila sepak terjangku, semakin banyak uang terkumpul, orang-orang senang membeli gelar, dan memberendel di depan namanya. Mulai dari gelar S1-S2-S3 bahkan profesor dan Honoris Causa, banyak dan berani bayar tinggi. Aku sering bernyanyi sambil menghitung untung.

"naik-naik ke puncak gunung tinggi-tinggi sekali-kiri kanan kulihat saja banyak pohon gelar."

(TERKEKEH SEPERTI KAMBING. MENGAMBIL GAMBAR LAMBANG UNIVERSITASNYA)

Nah ini pohon gelar, lambang University of Zuzulapan, indah bukan. Demikian promosiku, saudara-saudara berminat hubungi aku. Di nomor khusus

(SETENGAH BERBISIK)

Jangan disini, di sini terlalu terbuka.

Saudara-saudara, sekarang aku jadi penghuni hotel prodeo, dimana curut dan kecoa suka datang bertandang. Sebagai hiburan, tidak apa-apa, curut suka ku kejar-kejar lalu keluar. Kecoa tidak kumatikan, tapi kutangkap lalu kuperhatikan, luar biasa saudara-saudara. Makhluk menjijikkan itu ternyata punya daya tahan hidup yang tinggi kalau tidak dibikin mati. Dia akan tetap bertahan tanpa tahu waktu sudah berganti. Si kecoa ini, aku beri nama si kepala baja, karena cerminan aku yang tengah menderita tetapi harus bertahan hidup sampai masa hukumanku habis. Aku akan menghirup udara bebas kembali.

(TIBA-TIBA ADA KORAN DILEMPAR DARI LUAR JERUJI)
Eiit, untung berkelit.

(TERIAK)
Kalau bagi-bagi koran jangan dilempar, berikan saja secara sopan!

(TERDENGAR SUARA SIPIR : Makan tuh koran, beritanya ada di halaman…!)

Hei! Sipir! Halaman berapa?

(TERDENGAR SUARA SIPIR : Cari sendiri! Masa Prodo bodo!)

Dasar, sipir tahunya cuma nyengir.

Saudara-saudara tahu, di hotel prodeo ini memang gratis, tapi ada juga yang tidak gratis. Aku lihat koran dulu, sayang tidak ada kopi hangat yang masih mengepul dan sepiring pisang goreng madu kesukaanku.

(MEMBUKA-BUKA HALAMAN KORAN)

Menteri pendidikan memberantas para penjual gelar, sebuah gebrakan baru penuh harapan. Baru-baru ini menteri pendidikan Manaboa telah membuat kerjasama dengan pihak kepolisian untuk memberantas bisnis jual beli gelar kesarjanaan. Beberapa perguruan tinggi papan nama diduga banyak berbisnis jual beli gelar. Sebagaimana diberitakan pekan lalu, telah ditangkap seorang gembong bisnis jual beli gelar bernama Lay Apusi alias Prodo Imitatio yang selama ini telah berhasil mewisuda orang-orang penting di Manaboa ini dengan gelar-gelar imitasi. ihi..ihi..ihi.....
Akhirnya masuk koran juga.

(MEMBACA KEMBALI)

Bisnis jual beli gelar memang sudah menggurita tanpa upaya memberantasnya, niscaya akan banyak sarjana, magister dan doktor palsu. Kalau di Manaboa ini banyak para sarjana palsu, apa jadinya negeri ini. Bayangkan, menurut data, University of Zuzulapan yang asalnya dari Amarakua, cabangnya dikelola Lay Apusi alias Prodo Imitiato itu telah menghasilkan lima puluh orang doktor, seratus lima puluh tujuh Master Bisnis dan tiga ratus tiga puluh tiga sarjana berbagai bidang. Di mana mereka sekarang?
Mereka menjadi orang-orang penting di Manaboa ini!

(BERDIRI DAN BERTERIAK-TERIAK)

Mereka menjadi orang-orang penting di Manaboa ini!
Mereka menjadi orang-orang penting di Manaboa ini!

(SETELAH MERASA LELAH DIA DUDUK KEMBALI)

Saudara-saudara tahu, gelar akan terus diburu, sepanjang orang butuh, meski aku disini, aku banyak tangan kanan, banyak kawan-kawan yang terus dengan gigih dan bertahan dalam bisnis jual beli gelar secara sembunyi-sembunyi dan kamuflase tinggi. Bagiku apalagi, kecoa si kepala baja itu membuat aku sadar dan belajar, bahwa sepanjang banyak orang memerlukan gelar tanpa harus susah payah asalkan punya uang, bisnisku tak kan mati. Seperti pelacuran, sepanjang masih banyak laki-laki hidung belang mata bongsang bertandang ke sarang-sarang kenikmatan ranjang itu, sepanjang itu juga bisnis esek-esek laku keras bak kacang goreng. ihi..ihi..ihi....(TERKEKEH-KEKEH SEPERTI KAMBING)

Seharusnya yang ditangkap bukan pelacurnya, tetapi para hidung belangnya, bukan penjualnya tapi pembelinya. Di negeri ini aneh, pelacur di tangkapi, dirazia malam-malam, hidung belangnya dibiarkan bebas berlalu lalang. Termasuk dalam bisnis gelar ini, yang ditangkap penjualnya tetapi pembelinya dibiarkan begitu saja tanpa sangsi apa-apa, bahkan akhirnya banyak yang jadi orang penting.

(BERDIRI DAN BERTERIAK-TERIAK)

Yang harus ditangkap itu pembeli bukan penjual !
Yang harus ditangkap itu pembeli bukan penjual !

(KETIKA TENGAH BERTERIAK, TIBA-TIBA SEEMBER AIR MENGGUYUR TUBUHNYA)

(TERDENGAR SUARA SIPIR : Mandi tuh air, teriak sampai serak !)

Apa ini? Sipir gila, aku bilang aku lagi malas mandi. Kenapa kamu guyur! jadi basah semua nih !

Maaf, saudara-saudara, perlu kami beritahukan bahwa bisnis jual beli gelar hanya terjadi di Manaboa, bukan di Indonesia. Terimakasih.




si "....."

WAJAHNYA PENUH KHARISMATIK. SEDIKIT KUMIS. STELAN BAJU SAFARI. RAMBUT MENGKILAT SEPERTI BASAH. DAN BERSEPATU ALA COWBOY. SEBELAH KAKINYA MENUMPANG DI ATAS LUTUT KAKI YANG LAIN. DIA TERSENYUM PADA RAKYAT. SENYUMAN RAMAH YANG RADA ANEH. DAN SEBELUM MULUTNYA BICARA, IA MENGANGGUK DENGAN PENUH RASA HORMAT. TAPI TAMPAK KONYOL.
“Selamat datang, Saudara-Saudariku…. Selamat berjumpa. Dan apa kabar ? Senang rasanya saat ini saya dapat bertatap muka dengan anda sekalian. Tak lain, karena saya selalu rindu dan menantikan saat-saat seperti ini datang. Meskipun pada kenyataannya, sama sekali kita ini tak pernah bertemu sekali pun di masa lampau. Tapi tak apa-apa. Saya tak pernah punya pikiran jelek pada siapapun. Tak terkecuali kepada anda-anda sekalian yang sedang berada disini, dan menyimak dengan seksama maupun belum mencapai pada tingkat pengistilahan nilai-nilai dari seksama itu sendiri. Boleh-boleh saja. Rilek saja. Karena saya percaya, bahwa masih ada cinta yang kesasar pada pandangan pertama….he….he…he. Dan itu, suaaaaangaaat pueeentiiing sekali !“

“Hidup memang penuh putaran. Bahkan putarannya tak pernah dapat kita kejar meskipun dengan langkah-langkah yang strategis berbantu alat serba canggih seperti apa pun. Sebab itu adalah kodrat. Sangat alami saya bilang, kalau kita tidak mau mengatakan semua itu sebagai sebuah bentuk ‘skenario besar’ yang konon dari sang maha pencipta manusia, dunia, langit dan bumi beserta isinya. Tuhan !”

 “Dan bersamaan dengan waktu yang mengalir, hidup pun tak ubahnya seperti air. Mudah membeku bila kedinginan. Menguap kalau dipanaskan. Bahkan menyublim dalam kondisi-kondisi tertentu sehingga akal sehat kita ini tidak lagi diberi tengat jarak dan waktu untuk bisa berpikir kembali tentang apa yang sudah terjadi. Apalagi yang belum. Ner, teu? Tapi itu sangat berguna. Setidaknya untuk orang-orang yang tak putus asa.”

“Dengan gairah cinta yang membara, tentu hidup terasa indah. Dan kita tidak perlu lagi bosan menunggu akan datangnya hari kiamat apabila hanya ingin mendapatkan sebentuk sorga. Sorga yang sebenar-benarnya sorga yang pernah tercipta dalam setiap angan-angan kita. Kelamaan. Dengan mimpi yang benar, semua itu dapat diraih mulai sekarang. Tinggal kita mau saja melangkahkan kaki menujunya. Juga mengekarkan genggaman tangan untuk dapat mempertahankan apa-apa yang sudah pernah kita raih. Bahkan terus mengembangkannya. Dengan badan yang sehat, pemikiran yang tepat dan disertai pemahaman yang akurat. Serta yang terpenting,….. pake siasat !”

“Intinya adalah strategi. Tentu, bagi orang-orang yang belum terlatih, semua itu akan mustahil diwujudkan. Sebuah sorga tak hanya dibangun atas dasar pemikiran yang kerdil, melainkan dari sebuah cita-cita besar yang konsisten diperjuangkan. Apalagi kalau ditempuh dengan kaki yang telanjang. Sebab jalannya penuh rintangan. Onak dan duri telah tersebar dimana-mana. Dan sewaktu-waktu bisa dengan mudah menggores telapak kaki anda yang tidak hati-hati melaluinya. Nah, apalagi jika tangan anda juga hampa. Kosong. Tak membawa apa-apa pun sebagai bekal di perjalanan. Ya sudah, mati saja.”

“Ini soal perjuangan, Saudara. Perjuangan! Jadi jangan main-main. Hidup dan mati kita sudah kita pertaruhkan disini. Dan tentunya, tak penting lagi menggunjingkan tentang seberapa banyak pengorbanan harta-benda serta keluarga apabila dibandingkan dengan suksesi yang akan nanti kita dapatkan. Semua itu kecil….. Ya, seperti hukum ekonomi saja. Membeli atau menjual. Dibeli atau dijual, gitu. Politik pun demikian. Dengan modal seminim mungkin, kita raih keuntungan sebesar-besarnya. Tidak apa keluar sejumlah uang kita guna mendapatkan banyak dukungan dalam kampanye. Toh kalau berhasil, kan kita juga yang menikmatinya. Sebarkan saja berbagai jala guna menangkap pundi-pundi suara. Tebar pesona dimana-mana. Mulai tunjukan jasa-jasa kita walau pun kecil dan sangat kita sadari semuanya itu tak begitu berarti. Bikin pernyataan-pernyataan kontroversial. Pancing semua lawan politik anda supaya supaya mau berkonfrontasi secara terbuka. Kalah banyak dukungan kagak apa-apa. Yang penting kita angkat suara. Yang penting konflik. Yang penting populer. Dan persetan dengan setan.”
“Oya, sebagai orang politik, tentu saja kita juga mesti tahu beberapa rumus basi namun masih sering dipakai sehingga kini. Kalau yang kita kejar hanya duit, ikuti saja berbagai bursa pencalonan untuk suatu kedudukan dalam politik. Lebih kecil resikonya. Toh bila ada orang yang benar-benar ngotot ingin mencalonkan dirinya, maka ia akan menyumpal mulut anda dengan gula-gula. Buat diri anda supaya tetap terlihat meyakinkan; bahwa anda punya pendukung begitu banyak dan hebat-hebat. Kalau gak punya, buat saja kebohongan besar. Ada banyak LSM-LSM gurem yang terbiasa memanfaatkan keruhnya situasi dan kondisi bangsa ini”

“Kunjungi fakir miskin di daerah-daerah yang diperkirakan merupakan kantong-kantong suara yang cukup dominan. Beri saja sedekah. Gak perlu semua, yang penting ada publikasinya di media massa. Kunjungi beberapa orang penting di negeri ini supaya kita kelihatan banyak kenalan. Kunjungi pesantren dan pengajian serta rumah-rumah ibadah lainnya. Ambil hati para pemuka agamanya. Beri sedikit ocehan gombal dengan sebagai uang muka: kiriman semen dan batu bata untuk merehab bangunan yang rusak. Kalau semua masih bagus, anggap seperti sudah rusak. Bilang saja catnya luntur. Lalu catut nama mereka dalam setiap obrolan dan kesempatan supaya publik pun yakin bahwa kita ini benar-benar orang penting yang terpenting juga sangat dipentingkan. Jadi, jangan ragu dengan memasang embel-embel agama dalam kampanye. Jangan? Kenapa? Ah, sok suci anda ini. Dosa? Kata siapa….. This is just a game. Ini hanya permainan. Dalam politik kan sah-sah saja. Apa ada yang marah? Ya, terserah. Ini kan kenyataan.”

“Nah, untuk lebih memperbesar wacana, di atas sudah saya singgung sebelumnya. Yakni guna memuluskan jalan anda mencapai tampuk kekuasaan, salah satunya adalah anda juga harus punya satu dekengan lagi. Aparat keamanan? Bukan, sudah terlalu klise itu. Memang, asal punya duit cukup kita sudah bisa membeli perangkat penegak hukum di negeri ini. Preman? Itu sih gampang. Tinggal kasih saja minuman keras beberapa krat dan uang recehan, beres. Coba tebak…. Siapa? Tepat sekali. War-ta-wan. Memang wartawan. Anda tahu? Tak semua wartawan itu punya idealisme sebagai media controling yang baik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Justeru kebanyakannya adalah Uka-uka. Alias WTS (Wartawan Tanpa Surat Kabar). Kenapa harus wartawan? Lho, kan biar kita populer…..”

“…..eee, hampir lupa. (SETENGAH BERBISIK) Kalau anda memang berminat bekerjasama dengan semua pihak, saya punya catatan kecil pribadi yang sangat rahasia. Mau tahu? Gini, jangan sekali-kali berkampanye di hadapan seniman. Apalagi ngasi bantuan segala. Pengalaman membuktikan, kalau seniman dikasi bantuan, uangnya diambil milihnya kagak. Sontoloyo…..”

“Dan begitulah saudara. Dalam kehidupan seperti ini, saya harus terus menguras otak agar apa yang tengah saya miliki tidak jatuh ke tangan orang yang tidak kita inginkan. Saya harus terus mengawasi gerak-gerik musuh. Mendeteksi setiap perubahan yang terjadi. Insting, itulah modal utamanya. Ya, seperti perang juga. Apa yang kita lakukan harus disertai dengan perhitungan resiko yang penuh kehati-hatian. Karena kalau tidak demikian, sia-sia saja semuanya….he….he. Dan saya pun akhirnya tidak pernah merasa puas mensyukuri apa yang telah menimpa diri saya. Ketiban rejeki sebesar ini. Otak !”

“Wah…..saya jadi teringat akan kisah di masalalu. Yakni ketika Nabi Sulaiman diberikan beberapa pilihan oleh Tuhan. Dan yang dipilih Sulaiman itu hanyalah ilmu. Kecerdasan. Padahal pilihan yang terbaik secara naluri telah disodorkan kepadanya. Harta banyak melimpah ruah 
serta tahta kerajaan, juga wanita yang sangat cantik. Tapi beliau tidak memilih semua itu. Ia hanya tertarik pada pengetahuan. Dan dengan kepintarannya, akhirnya semua pilihan yang lain pun ia dapatkan di kemudian hari. Hebat !”

“Hla, begitu juga dengan saya. Coba, anda lihat baik-baik diri saya. Sebentar saja. Ayo! Nah, sekarang apa yang anda lihat? Apa? Kumis saya jelek? Bukan itu, lihat lagi. Jangan menyinggung soal kumis. Gini-gini juga pernah menaklukan artis selebriti. Dan ngomong-ngomong soal selebriti, ada juga lho yang jadi simpanan kawan-kawan saya. Piaraan, gitu. Ah, cobalah sekali lagi. Lihat saya, lihat! Nah, nah….. Apa? Kursi? Ya, tentu saja ini kursi. Tapi coba anda semua perhatikan sekali lagi. Bukan hanya kursinya. Melainkan makna daripada kursi ini. Sudah? Ha…ha….. Saya yakin seyakin-yakinnya anda semua pasti mafhum. Mengerti….”

ORANG ITU BANGKIT DARI KURSINYA. DAN MEMAMERKAN APA YANG DIMILIKINYA KEPADA SEMUA RAKYAT. LALU MENYELINAP KE BELAKANG KURSI YANG BARU SAJA DIDUDUKINYA. MENYENTUH-NYENTUHNYA DAN BICARA.
“Kursi inilah yang selalu jadi rebutan banyak orang. Tak peduli dengan tingkat status kasta sosial orangnya sendiri. Hanya orang dengan selera rendahan saja yang tidak mau duduk di atasnya. Anda tahu? Sebab di kursi panas inilah seluruh impian digantungkan. Harapan-harapan kita akan lebih cepat terwujud jika sudah mendapatkannya. Disinilah cita-cita menemukan titik klimaksnya. Orgasme dalam segala kemegahan duniawi yang terkadang terlalu muluk untuk dihayalkan. Tapi ini kenyataan. Riil. Sehebat apa pun orangnya maka ia belumlah begitu sempurna bila tidak pernah sekalipun menyentuh kursi seperti ini. Sebab itu adalah dunia, Saudara. Dunia !”

“Namun, ingat! Tak sembarang orang boleh memilikinya. Kursi ini diperuntukkan hanya bagi orang-orang yang terpilih dan berani nanggung resiko. Konsekwensinya, kalau tidak mampus oleh massa karena dianggap penipu, maka matilah dalam penjara. Dan jangan salah, Saudara. Jikapun anda harus mati, maka nama anda sekalian akan terus dikenang sepanjang masa. Apalagi jika anda gugur di medan laga. Karena ini perjuangan. Dan yang mati dalam sebuah pertempuran adalah pahlawan. Catat itu. Pah-la-wan. Luar biasa bukan?”

“Dengan tenang dan khidmat, upacara penguburan anda berlangsung lancar. Tak kurang satu apapun. Karangan-karangan bunga menumpuk dengan ucapan bela sungkawa yang berlebihan. Dan ribuan pendukung serta simpatisan sarat berderet dari ujung ke ujung taman pemakaman. Disertai haru birunya tangisan yang menyeruak menusuk-nusuk angkasa jagat raya….”

“Bahkan dengan roh anda yang sudah berpindah alam itu, akan merasakan juga kebanggaan yang tiada taranya atas kesedihan yang terjadi pada dunia karena telah terpisah dari kehidupan anda. Ketentraman sepenuh jiwa. Bukan hanya nama anda yang akan selalu disebut-sebut dalam tiap kesempatan resmi maupun tak resmi. Dalam obrolan biasa maupun dalam sebuah perdebatan. Tapi khalayak juga senantiasa akan menerima berbagai asumsi, apologi, atau pendapat yang pernah anda semua lontarkan. Paling tidak sebagai bahan kajian para ilmuwan dan sejarahwan. Gagasan-gagasan anda yang cemerlang selalu tertulis di koran-koran serta buku-buku sejarah dengan judul yang ditulis dalam hurup tebal dan besar juga bergaris bawah. Di situ, potret 
tampang anda pun terpampang dengan bagus, sehingga orang-orang mengenalinya dengan baik dan akrab. O, Si Anu yang pahlawan itu? Ya, saya pernah mengenalnya….. Begitulah kira-kira mereka bicara dalam penuh kekaguman mengenangkan kehidupan anda. Luar biasa. Seakan-akan dengan banyaknya menyebut-nyebut nama anda, dan dengan seringnya menceritakan kembali kisah-kisah yang sudah pernah anda lalui, mereka bisa mendapatkan pahala. Coba, terpikirkah oleh anda akan semua yang sudah saya ucapkan barusan? Tapi,…”

“….Tentunya jika anda dinilai baik oleh mereka. Dan mereka yang saya maksud adalah orang-orang yang selama ini mendukung kita meskipun dengan beragam alasan. Tim sukses istilahnya. Mulai dari yang suka memanfaatkan keadaan dan kesempatan, hingga orang yang terpaksa didesak oleh keadaan. Dari penjilat yang suka mencari kedudukan, sampai pada penjahat yang berstatus terhormat di dalam sistem ketata negaraan. Dan kebaikan disini selalu cenderung subjektif. Tidak apa menjahati pihak lain asalkan jangan menghianati kawan sendiri. Tak mungkin mereka mengenangkan orang yang berperilaku mencla-mencle’ dan gak jelas. Apalagi musuh-musuh di luar sana sudah menantimu dengan berbagai serangan yang sewaktu-waktu dapat dilancarkan. This is a time bomb. Musuh-musuh yang dimulut dan kepalanya terdapat dendam amat dalam nan mengerikan. Teroris elit berwajah manis. Habislah ente. Jangankan sekedar ucapan selamat, sedikit sanjungan pun takan mungkin diperoleh. Cemoohan dan fitnah bersarang telak di wajah anda dengan telak. Yang gak hanya buruk rupanya, melainkan pula bau busuk punya aroma. Emoh orang mendengarkan nama anda disebut-sebut. Najis tujuh lapis…..!!!”

“Yah,….begitulah saudara. Romantika dari sebuah estetika dramaturgi kenyataan. Terkadang, bila saya membayangkan hal itu akan terjadi pada diri saya, saya jadi ngeri sendiri. Takut. Namun ketakutan pun akan sirna sendirinya apabila anda telah merasakan apa yang sekarang ini sudah dan sedang saya nikmati. Kebahagiaan. Tak pernah dapat saya lukiskan. Bebas pergi kemana saja walau ke ujung dunia sekalipun. Kan ada negara yang membiayai. Kalau di dalam kas organisasi udah kempes, ya, ngorder proyek saja ke dinas-dinas. Apa? Gak mungkin? Apanya yang kagak mungkin di negri ini, bro. Dan ingat. Gak perlu banget nama kita dicantumkan di dalam kontrak pekerjaan. Pinjem aja benderanya ke pengusaha-pengusaha yang udah jadi kroni. Atau kalo gak mau bikin perusahaan fiktip, jual saja nama yayasan yang bisa diajak sekongkol buat minta sumbangan. Rebes, aeh, beres. Dan perjalanan yang saya maksud di atas tentu haruslah punya alasan yang mendasar. Dengan tema ilmiah dan selalu mengatasnamakan rakyat. Studi bandinglah, penelitian, atau apaun saja asal tak mencurigakan meskipun kenyataannya kita hendak liburan gratis dan mewah. Prosedur harus ditempuh dengan rapi. Supaya berkas-berkas yang menjadi barang bukti tampak sempurna dan gak bermasalah. Skenario yang hebat, bukan? Apa? Perempuan? Alah, jangan ngomong tentang masalah yang sepele itu…..”

“….Anda tahu? Setiap saat jika saya memang menginginkannya, perempuan-perempuan itu pun akan rela ngantri demi mendapatkan jatah untuk saya tiduri. Gak percaya? Lihat saja nanti. Oya, sebentar lagi mereka akan datang. Kemarin saya ada deal-deal-an bersama pengusaha yang sodaranya mantan pejabat itu. Dan dia berjanji kalau proyeknya sudah gol, maka saya akan dapat V sekian persen dari sejumlah nilai yang ia peroleh. Plus bidadari penyelamat kaum adam yang sudah biasa kehausan pada saat libidonya mulai melonjak-lonjak minta dikasih jatah kepuasan…..”

KETIKA IA MASIH TERUS SAJA BICARA, MAKA TERDENGAR SUARA-SUARA ANEH. MESKIPUN BELUM JELAS TAPI CUKUP MEMBUAT PERUBAHAN SUASANA. DAN IA SEMAKIN TERBUAI OLEH BERBAGAI IMPIANNYA. TERUS MENGOCEH SAMBIL MERASAKAN SEOLAH-OLAH IA SEDANG BERSETUBUH. DAN ITU TAMPAK BEGITU MENYEDIHKAN !

“Nah, anda juga mendengar mereka datang, kan? Ya, itu dia. Langkah kaki yang sangat merdu. Bagaikan irama musik rebana. Atau bunyi tabuhan tam-tam dalam dangdutan…. Ha….ha.…ha. Aduh, saya jadi kepengen cepet-cepet asyik masyuk. Kehangatan…oh…yes. Kelembutan…..oh…no. Sebentar lagi suguhan sorga akan datang…..”

SUARA-SUARA SEMAKIN NYARING TERDENGAR MULAI MEMANASI SUASANA. IA MULAI MENYADARI KEADAAN. IA SEPERTI MELIHAT DAN MERASAKAN BERAGAM SOSOK MUNCUL DI HADAPANNYA. TIBA-TIBA TUBUHNYA BERGIDIK KERAS. IA MULAI TAK TERKENDALI. TANGANNYA MENUDING-NUDING KE ARAH-ARAH YANG KOSONG. BAHKAN MENJERIT-JERIT TAK KARUAN.

“Hey, siapa kalian yang bicara kotor itu di hadapan saya? Ayo ngaku! Tak kalian lihatkah akan siapa yang sedang kalian hadapi saat ini? Heh, apa yang akan kalian lakukan? Ah, kalian ini hanya tahu arti menggoyang tanpa mau bersusah payah untuk menggayung. Apa? Menyerahkannya? Enak saja. Saya dapatkan kursi ini karena saya memang berhak mendapatkannya. Sebab ini adalah hasil sebuah pilihan. Atas nama kemiskinan saya bicara. Juga atas nama harkat dan martabat bangsa ini juga saya berjaya. Dan jika saat ini saya sedang menikmati hasil perjuangan, ya, jangan sirik dong. Ini kan hasil keringat saya sendiri…..”

ORANG ITU SEMAKIN KALAP.
“…..eeeh. Mau apa kalian? Jangan bilang saya penipu. Kalianlah yang telah menipu diri sendiri karena telah percaya pada saya. Lho, saya bukan pembohong. Saya telah menympaikan apa yang telah kalian amanatkan pada saya. Sungguh. Tak sedikit pun saya menyembunyikannya. Tapi kalau itu tidak terealisasi, ya, apa boleh buat. Emangnya dewan itu milik saya sendiri? Emangnya partai itu punya saya sendiri? Dan emangnya jabatan saya ini saya sendiri yang menentukan? Pemerintah? Tidak…. Saya hanya sedikit membeli peluang untuk bisa merasakan akan bagaimana rasanya bila saya sedikit punya kesempatan menduduki kursi ini. Tak ada hal lain lagi. Apa? Tidak adil? Memangnya ada keadilan di negeri ini? Jangan sok suci kamu…. Awww….!!! Siapa yang memukul kepala saya? Jangan anarkis, dong. Kita bisa bicarakan baik-baik persoalan ini. Secara kekeluargaan sajalah…. Awww….!!! Jangan pukul saya lagi…. Kita ini negara hukum….jangan main hakim sendiri, ya. Ini melanggar HAM, tau?! Boleh saja kalian ngomong dan demonstrasi. Tapi bukan begini caranya. Demo Crazy ini namanya. Gila? Hey, jangan bilang saya gila. Saya masih waras. Saya masih waras ! Oh,….jangan ambil kursi saya. Jangan ambil nyawa saya…. He, jangan mendekat. Ingat, dengan membunuh saya, berarti kalian telah membunuh banyak suara dari sekian puluh ribu jiwa masyarakat di negeri ini. Dan itu dosa, nyaho….. Dosaaaa…….!!! Tolong…., Tolooooooong !”