widget animasi

translate

Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan

Memilih Presiden

Kalau kita makan, kita punya kekuasaan terhadap yang kita makan. Kalau kita memilih makan nasi uduk, itu kita perhitungkan kita membelinya di suatu warung yang kita mampu mengontrolnya. Kalau nasinya ada krikilnya kita protes, dan kita punya pengetahuan apakah nasi ini beracun atau tidak, basi atau tidak.

Setiap pilihan resikonya adalah harus disertai kesanggupan untuk mengontrol sesuatu yang kita pilih. Di situlah kelemahan kita sebagai bangsa Indonesia. Kita harus memilih pemimpin tanpa sedikit pun ada kesanggupan untuk mengontrol pemimpin yang kita pilih itu.

Bahkan lebih dari itu, bukan hanya tidak sanggup mengontrol, kita bahkan tidak punya pengetahuan yang mencukupi sama sekali mengenai sesuatu yang kita pilih. Kita tidak tahu sebenarnya caleg ini kualitasnya bagaimana, hidupnya bagaimana, istrinya berapa, akhlaknya bagaimana, kita tidak tahu sama sekali. Bahkan tokoh-tokoh terkenal pun rakyat tidak tahu. Bapak ini, Gus itu, orang nggak tahu sebenarnya. Dan kalau pun mereka tahu, mereka tak punya daya kontrol terhadap yang dipilihnya ini, tapi mau tak mau harus memilih. Ini saya kira dilema kita bersama se-Indonesia.

Jadi, sederhana saja sebenarnya. Kalau anakmu naik kapal merantau ke luar pulau, maka selama naik kapal akan ada kemungkinan ada badai, ada kemungkinan dibunuh orang, ada kemungkinan dia bertengkar dengan orang, ada kemungkinan dia di ancam bahaya. Kepada siapakah engkau menyerahkan anakmu yang engkau tak bisa mengontrolnya di perjalanan, kepada siapa? Kamu titipkan pak Camat? Kamu titipkan nahkoda? Tidak ada jalan lain kecuali engkau titipkan pada Allah SWT. Kalau yang kau pilih di pemilu nanti kau tidak tahu siapa dia, kamu tidak bisa mengontrol dia, kenapa tidak kau serahkan pada Tuhan? Jadi serahkan pada Tuhan.

Kalau dalam Islam sederhana. Kalau misal anda tidak memilih, kalau nanti anda berdoa supaya bangsa kita sejahtera, nanti Tuhan mengejek juga “Lha kamu nggak milih aja kok minta bangsamu sejahtera”. Tapi kalau memilih bingung juga mau memilih yang mana, sedangkan kalau memilih tidak bisa mengontrol juga. Ya kalau begitu serahkan pada Tuhan.

Kalau dalam Islam caranya jelas. Jadi malamnya shalat dulu kek, kalau nggak sempat ya dalam hati saja berdoa, “Ya Tuhan, gimana mosok saya nggak nyoblos, saya kan warga negara. Saya pilih lah yang kira-kira paling bagus. Cuma kan saya ndak bisa mengontrol dia, Tuhan. Jadi, tolong dong, ini saya pilih satu. Setelah saya pilih dan coblos, saya serahkan kepada-Mu. Kalau dia pemimpin yang baik, panjangkan umurnya. Beri dia kekuatan, dan bantulah urusan-urusannya. Tapi kalau yang aku pilih ini ternyata pengkhianat, penjilat, penindas rakyat dan sama sekali tidak punya cinta kepada kami-kami yang di bawah ini, mbok dilaknat dengan cepat, mbok cepat-cepat diberi tindakan, Tuhan. Terlalu lama lho kami rakyat Indonesia kayak gini terus bingung nggak habis-habis. Terus kepada siapa dong aku mengeluh? Kepada siapa dong rakyat Indonesia mengeluh? Kepada DPR? Wong mereka itu yang justru kami keluhkan kepada-Mu ya Allah. Jadi tolong, Tuhan….”

Bisa juga ditambahi ayat-ayat. Sebelum masuk kotak atau bilik bilang di dalam hati, begitu mau mencoblos baca “Wa makaruu wa makarallah wa-llahu khoirul maakirin”. Kalau mereka makar pada nilai-nilai Allah dan nilai rakyat, maka Allah akan makar pada mereka. Dan yang paling jagoan untuk makar adalah Allah. Kalau mereka khianat pada rakyat, berarti mereka khianat pada Tuhan. Maka Tuhan juga akan makar pada mereka. Wa-llahu khoirul maakirin. Jejak bumi tiga kali, baru dicoblos. Nanti kalau dia khianat, dia sakit kudis.

Anjuran Simbah

Assalamu’alaikum wr wb

SETIAP pengambilan keputusan, termasuk hal Pemilu, ahsan wa afdhal jika dilakukan sendiri secara mandiri, sebagai al’abd al-baligh (hamba Allah yg dewasa) dan al-khalifah al’aqil (khalifah Allah pengguna akal).
Akan memilih atau tidak, dianjurkan malam sebelum hari-H melakukan tafakur, shalat istikharoh dan shalat tahajjud, memohon petunjuk Allah dan mewiridkan berulang-ulang “Ya Hadi Ya Mubin” semampunya.

Khusus untuk Jamaah Maiyah, ahsan wa afdhal jika malam itu sebelum tidur melaksanakan Doa Tahlukah.

Jika pagi hari-H mengambil keputusan untuk tidak memilih (karena keyakinan atau pandangan yg dipercaya sudah matang) dianjurkan untuk shalat Dhuha 7x (14 roka’at), membaca “Qul in dholaltu fainnama adhillu ‘ala nafsi, wa inihtadaitu fabima yuhiya ilayya Robbi” diakhiri istighfar sebanyak2nya sesanggupnya.

Jika mengambil keputusan untuk memilih, dianjurkan untuk memilih pihak yang paling diharapkan (berdasarkan pengalaman dan sejarah calon pemilih terhadap yg diharapkannya itu), meskipun tidak dimengerti benar karena terbatasnya informasi tentang pihak yg diharapkan itu. Dengan anjuran: sejak dari rumah hingga saat-saat menunggu giliran memilih, maupun ketika akan melaksanakan pilihan di dalam ruangan — mewiridkan (berbisik-bisik atau dengan hati) “wamakaru wamakarallah wallahu khoirul Makirin”.

Setiap hamba Allah berhak penuh untuk menerima dan melaksanakan anjuran ini, juga berhak penuh untuk menolak dan mengabaikannya. Bagi teman-teman yang tidak mungkin menggunakan anjuran-anjuran ini karena berbeda idiom dan prosedur keagamaannya, mohon diapresiasi dimensi rohaniahnya.

“Man-yahdillahu fala mudhilla lah, wa man yudhlil fala hadiya lah”.
Wassalam wr wb

S i m b a h
April 2014

Menjadi Manusia Sang Pendaki

Peringatan Isra’ Mi’raj umumnya selalu dikaitkan dengan perintah sholat kepada umat Islam. Namun kalau dipelajari lagi, ada sisi lain yang lebih menarik dari peristiwa ini. Misalnya kalau kita mau mendalami arti dalam ayat 1 surah Al Isra’, maka kita akan paham bahwa hidup ini harusnya selalu diorientasikan berdasarkan konsep diperjalankan Allah SWT. Dengan kata lain, apapun jabatan kita, entah jadi presiden, menteri, gubernur, bupati, walikota, guru, dosen, dokter, tukang ojeg, blantik sapi, dst, sesungguhnya berada dalam koridor diperjalankan Tuhan sehingga dengan begitu kita janganlah terlalu banyak berprasangka mengenai diri kita dan mengenai dunia. Jika Allah yang memperjalankan, maka pasti Dia yang akan “memfasilitasi” dan menjamin keselamatan kita.

Kata kunci lain dalam surat tersebut selain kata “diperjalankan” adalah kata “pada suatu malam”. Bagi orang yang sudah sampai kepada jalan Allah, maka akan paham bahwa kata “malam” berarti “gelap”. Artinya hidup itu malam, hidup itu gelap dan peristiwa-peristiwa masa depan dalam hidup kita adalah malam. Karena itu untuk melewati kegelapan itu kita butuh cahaya, kita butuh penerang yang harus kita dapat dari apa saja yang telah diberitakan oleh Tuhan melalui ayat-ayatnya (tanda-tanda) kebesaranNya.

Dari titik itulah, pada pilpres nanti, misalnya, kita hanya bisa berharap pada orang yang benar-benar “diperjalankan Allah” untuk memimpin kita. Selama ini para kandidat calon, berada dalam koridor “diperjalankan” oleh : uang, politik, ambisi pribadi, kekayaan, popularitas dan seterusnya. Padahal mereka berada dalam “kegelapan” malam. Mereka berjalan tanpa “cahaya” dari Allah, sehingga hasilnya, hampir 300 kepala daerah, kini berada di bui.

Karena tidak “diperjalankan” oleh Allah, maka banyak pemimpin kita yang kemudian tersesat di kegelapan, dan pasti tidak mencapai mi’raj. Mestinya setiap peran apapun, jika itu diperjalankan Allah, maka akan sampai kepada tingkat manfaat. Kalau dalam hidup ini tidak ada peningkatan kualitas diri, berarti kita hidup tanpa berkah Allah.

Mi’raj atau Sang Pendaki
Jika dalam hidup kita tidak pernah naik kelas, maka konsep mi’raj tidak terjadi dalam hidup kita. Dalam hadits disebutkan Ash sholatu mi’rajul mukmin. Sholat adalah mi’raj orang beriman. Mi’raj sendiri artinya “pendakian”. Tidak bisa orang sholat itu hanya mendatar tanpa bisa mengantar manusia untuk naik kelas.

Perintah bahwa hidup harus selalu menjadi “sang pendaki” juga dikatakan oleh Paul G. Stoltz dalam bukunya yang berjudul Adversity Quotient (2000). Pada intinya Stoltz menegaskan tidak memadainya seseorang hanya memiliki IQ (Intellectual Quotient) yang unggul saja. Di Amerika, para pemilik perusahaan-perusahaan sukses umumnya tidak bersekolah secara formal, atau setidaknya DO, seperti Bill Gates.

Untuk mampu merubah “hambatan” menjadi “peluang”, Stoltz menawarkan perlunya “keyakinan” sebagai kekuatan utama sebagai seorang pendaki atau “climbers”. Di sela-sela orang lain mengalami keputusasaan, sang pendaki mampu menembusnya. Jika orang sudah memiliki bekal pesimistis, misalnya selalu mengatakan sesuatu sebagai “sulit dan tidak mungkin”, maka ia akan mengalami kesulitan dalam hidupnya.

Karenanya Stoltz membagi ada tiga golongan manusia, yakni : Pertama, Jenis. Quitters, yakni orang yang selalu befikir “tidak mungkin atau sulit”; Kedua,. Jenis campers, atau pekemah, yakni tidak sampai mencapai puncak, namun hanya punggung bukit untuk “berkemah”. Kamus hidupnya hanya sederhana “pokoke segini aja udah cukup, nggak perlu repot-repot”; dan ketiga, jenis. Climbers atau pendaki. Orang jenis ini selalu berseri-seri karena selalu optimistik, meski ada juga yang keterlaluan hingga “menghalalkan” beberapa cara. Semuanya tinggal seberapajauh seseorang memiliki bekal iman jika ingin menjadi sang pendaki agar tidak terjebak dalam hal-hal negatif.

Dalam tradisi sufistik, kekuatan untuk menghadapi sesuatu harus selalu dilatih. Kalau ini dicapai, maka ia akan “tahan banting” dan selalu optimis. Kata Al Ghazali, jika kamu ingin menjadi orang yang saleh, maka milikilah lima sifat dari anak-anak. Kelima sifat itu ialah : mereka tidak cemas makanan sehari-harinya, tidak mengeluh ketika sakit, apapun makanan yang mereka miliki akan selalu berbagi, ketika berselisih tidak ada dendam, perlakuan meremehkan membuat mereka takut dan membuat mereka meneteskan air mata.

Dari titik ini nampak bahwa peristiwa Isra` mi`raj sangat inspiratif untuk perubahan, mencari keadilan, kebenaran, serta menjadi manusia ”sang pendaki”. Ini semua harus dikembangkan jika manusia ingin menuju peningkatan kualitas diri. Ajaran agama itu pada dasarnya untuk membentuk akhlaq dan moralitas. Dalam puasa nanti, mutu ”sang pendaki” harus memuncaki seluruh proses kerinduan yang terjadi sepanjang tahun.

Kalau ini bisa dilakukan maka dalam pilkada dan pilpres nanti, kita berharap akan mendapatkan tipe-tipe pemimpin yang berfungsi seperti ”sang pendaki”, mengabdikan diri menuju kualitas kehidupan berbangsa bernegara yang baik. Di sinilah letak pentingnya kesholehan pribadi dan sosial. “Sholeh itu kemampuan diri untuk menghitung setiap perkataan dan perbuatan kita sehingga mampu menakar apakah yang kita ucapkan dan lakukan itu kira-kira menimbulkan mudharat atau manfaat kepada orang banyak.

Itulah sang pendaki.

Presiden Balkadaba versi : “Laba Untuk Rakyat”

Aku mendengar suara dari irama nafasnya :
Akulah Balkadaba. Aku hayawan raksasa yang kau sangka tinggal di masa silam
Padahal tidak ada lembar sejarah kehidupanmu yang aku tidak merasuk di darahmu
Bahkan aku berdampingan dengan ion, proton, electron, daging busukmu 

Aku sais gelombang nafsu dan frekwensi sejarahmu
Aku meniupkan zat titipan Tuhan di hawa pranamu 


Aku mengurai diri menginti menjadi kristal di pusat jantungmu 
Aku bertopeng cahaya palsuku
Ku pompa tekhnologimu menjadi budaya tanpa kecerdasan
Kristalku memancar melalui gelombang
Memecah pikiranmu sampai terkeping-keping
Menyeret hatimu ke ruang-ruang hampa
Membanting jiwamu hingga terputus syaraf-syarafnya
Aku menguntit kemanapun langkah kalian
Kutandai jalan peradaban kalian yang membentang
Yang segera berujung di gerbang kehancuran 



Ssshh.. Hah! Aku ketakutan sendiri
Aku berlari ke atas bukit
Ku tengok negeriku dari kejauhan
Wahai para kekasih di tanah airku yang kesepian
Apa yang sedang kalian lakukan?
Aku menyaksikan 120 juta orang kosong wajahnya
120 juta orang di ombang-ambingkan oleh hanya 1 juta orang 



Di seret, di giring, di jerat, di lemparkan ke ruang-ruang hampa yang tanpa masa depan
Tetapi aku melihat seribu orang berlarian kesana-kemari
Ada yang pergi cari Joyoboyo
Ada yang ketik REG ke Mama Lauren
Ada yang terbang ke Andalusia hingga Yunani dan Mesir Kuno
Ada yang bersila bertapa memasuki kuil inka dan maya
Ada yang berendam di sungai
Ada yang gelantung di pohon bak kelelawar
Ada yang pergi semedi ke Gunung Lawu

Aauuww…!!
Balkadaba tiba-tiba mengeluarkan suara yang sangat aneh semacam ringkikan, tetapi juga seperti auman yang panjang tanpa kuketahui asal usulnya, tiba-tiba pula badanku sudah berada diatas kepalanya yang sangat besar. Sekilas muncul rasa asik di dalam perasaanku. Seolah-olah aku sedang naik buroq.
Balkadaba membawaku ke puncak bukit. Ia memutar badannya kemudian berhenti, tepat di arah mana tadi aku menatap tanah airku Indonesia. Gelap, keremangan dan cahaya bergantian memancar langit ke tanah air yang subur itu. Kemudian terdengar suara genderang bergemontang menciptakan gelombang-gelombang.
Dan di tengah-tengah gelombang suara dari tanah air itu, aku mendengar seorang lelaki berteriak : 


Aku deklarasikan hari ini. Kabinetku bernama, kabinet Laba Untuk Rakyat
Seluruh mekanisme kerja dan keputusan pemerintahanku harus menuju pencapaian Laba Untuk Rakyat.
Bersama para menteri dan semua aparatur pemerintahanku, aku bersumpah dan mendapat laknat langsung dari Tuhan. Jika bernafas, begerak, melangkah dan melakukan apa saja tidak demi memperjuangkan Laba Untuk Rakyat. 


Ini bukan soal siapa presidennya dan siapa wakilnya, juga tidak penting apakah engkau jadi presiden atau jadi bambung melarat. Para preman, kiyai, artis, jendral pecak silahkan jadi nomer satu. Tapi syaratnya, mengabdi kepada Laba Untuk Rakyat. Siapapun saja yang sudah terlanjur menghuni tanah negeriku dan siapapun saja yang datang dari luar. Semua bekerja dan mengabdi kepada satu hal saja, Laba Untuk Rakyat. Makhluk-makhluk raksasa siapapun nama kalian. IMF, Bank Dunia, ADB, Modal Asing, Modal Ajaib, Wewe Gombel, Genderuwo, Banaspati, termasuk Sundel Bolong, silahkan masuk ke Indonesia bergabung di dalam prinsip, Laba Untuk Rakyat Indonesia. Setan, iblis, konglomerat, global system moneter internasional, dajal iluminati alombratosdruhundimomonolengeng, silahkan berkiprah. Tetapi begitu memasuki batas pagar negeriku, hanya satu yang berlaku, Laba Untuk Rakyat. 


Silahkan para ahli bicara tentang negara, kerajaan, monarki, sosialisme, baik yang religius maupun yang setengah religius. Kapitalisme, ultra kapitalisme, neoliberalisme dan kainamisme. Tapi Kun Fayakunnya cuma satu, Laba Untuk Rakyat. Mau mengolah tambang batubara, emas,.. silahkan!. Mau bikin mall-mall, carefour, carethree, caretwo.. Mau bikin PT Kapal Keruk Taline Kenceng, Saeful Ngantuk Taline Ngaceng, Perusahaan Kluwung International.. silahkan!. Tapi berunding sama saya, dan aturan pembagian hasilnya hanya satu, Laba Untuk Rakyat. Iblis mau bikin perusahaan, malaikat Jibril mau bikin parpol, silahkan!.. tuhan mau kost, silahkan!.. Tapi satu perundingannya, Laba Untuk Rakyat. 


Silahkan masuk semuanya imprealisme jenis apa saja. Silahkan subversi penjajahan lewat kampus-kampus pendidikan dan media-media. Santet, tenung, rudal, bedil, senapan, peluru, mata-mata matamu. Tapi urusan negeriku cuma satu, Laba Untuk Rakyat. MPR, DPR, DPD, atau silahkan bikin lagi KPR, Pak De, Bu De.. Lembaga Sayang Masalah, Aktivisme, Lembaga Dana Internasional. Tayangan rasan-rasan dan wawancara lempar batu dari kejauhan. Madhab Jender, Komunitas Munafik Liberal, silahkan berjoget di panggung nasional, tapi tidak ada aturan, tidak ada undang-undang, tidak ada polisi, tidak ada rapat dan surat keputusan, kecuali demi Laba Untuk Rakyat. 


Pisahkan secara transparan kas pemerintah dengan kas Negara. Tidak ada pegawai negeri yang patuh kepada atasan, yang ada adalah pegawai negara yang taat kepada undang-undang. Rakyat adalah pejabat tertinggi, dan para pejabat adalah buruh dan pembantu yang digaji.

Palsafah negaraku Panca Laba. Laba Rohani, Laba Akhlak, Laba Ilmu, Laba Budaya dan Laba Jasad. Undang-undang negaraku Undang-undang martabat rakyat. Nun sewu ideologi negaraku adalah manunggaling kawulo lan gusti, bahasa arabnya tauhid.. bainalloh.. wannas.. Allohu Akbar. 

Di dada pemimpin, di dalam dadanya Karwo dan Saiful, di dalam dadanya SBY, Budiono, Prabowo, Susilo,..Susilo Bambang Budiono, Budiono Susilo Subianto. Di dalam dada kalian, bersatulah rakyat dengan Tuhanmu. Engkau tidak akan menyakiti rakyatmu, karena engkau tidak mau dilaknat oleh Tuhanmu. Dan engkau tidak akan patuh kepada Tuhanmu, maka rakyat akan marah kepadamu. Karena rakyat dan Tuhan menyatu di dalam kalbumu menjadi pusat pemerintahan, menjadi pusat administrasi, menjadi pusat segala persidangan dan keputusan-keputusan sampai moncrot-moncrot ditubuhmu. 

Itulah sejatinya pemimpin yang dibutuhkan oleh negaraku. Lambat atau cepat, kalian semua, semakin banyak orang di berbagai wilayah, di berbagai provinsi, kabupaten, desa dan kota akan makin banyak yang bersedia mati demi Laba Untuk Rakyat.


Tragedi Jakarta 1998

Aku tulis sajak ini di bulan gelap Raja-raja
Bangkai-bangkai tergeletak lengket di aspal jalan
Amarah merajalela tanpa alamat
Ketakutan muncul dari sampah kehidupan
Pikiran kusut membentur simpul-simpul sejarah


Oh..zaman edan
Oh..malam kelam pikiran insan


Koyak-moyak sudah,..keteduhan tenda kepercayaan
Kitab undang-undang tergeletak di selokan
Kepastian hidup,..terhuyung-huyung didalam comberan


Oh..tatawarna fatamorgana kekuasaan
Oh..sihir berkilauan dari mahkota Raja-raja


Sejak dari zaman Ibtahim dan Musa,
Alloh selalu mengingatkan,..
bahwa hukum harus lebih tinggi dari keinginan para Politisi,Raja-raja dan Tentara
Oh..kebingungan yang muncul dari kabut ketakutan
Oh..rasa putus asa yang terbentur sangkur


Berhentilah mencari ratu adil..
Ratu adil itu tidak ada..
Ratu adil itu tipu daya..
Apa yang harus kita tegakkan bersama adalah,..'hukum adil'
Hukum adil adalah bintang pedoman didalam prahara
Bau anyir darah yang kini memenuhi udara,..
menjadi saksi yang akan berkata:


Apabila Pemerintah sudah menjarah Daulat Rakyat,
Apabila Aparat Keamanan sudah menjarah Keamanan,
Apabila Cukong-cukong sudah menjarah ekonomi bangsa..
maka, rakyat akan mencontoh penguasa lalu menjadi penjarah di pasar dan jalan raya
Wahai para penguasa dunia yang fana
Wahai para jiwa yang tergelusir tahta
Apakah masih akan buta dan tuli didalam hati?
Apakah masih akan menipu diri sendiri?


Apabila saran dan akal sehat kamu remehkan,
berarti pintu pikiran-pikiran kalap yang akan muncul dari sudut-sudut gelap telah kamu bukakan


Cadar kabut duka cita menutup wajah ibu pertiwi
Air mata mengalir..


*sajak bulan Mei 1998 di Indonesia
 dipersembahkan kepada para pahlawan TriSakti
 yang gugur di medan Reformasi