widget animasi

translate

Tampilkan postingan dengan label Jelajah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jelajah. Tampilkan semua postingan

Kantata Expeditions

Bahwa hasil penelusuran kami kali ini adalah sebagian awal team untuk terus menelusuri keberadaan dunia astral yang ada disekitar perlintasan jalur selatan rel KA yang berada di wilayah Kota Tasikmalaya. Mungkin hanya sebagian masyarakat sekitar pernah mengetahui atau bahkan ada juga yang belum pernah mengetahui sebelumnya. Lokasi kali ini tidak bisa kami anggap sebagai tempat angker, tapi dimensi lain disekitar lokasi layak kita ketahui keberadaannya

Lalu Lintas KA Stasiun Awipari Pada Malam Hari

Penelusuran team kami mulai dari sisi jembatan yang berada beberapa meter sebelah barat dari stasiun. Dari sini, juru kamera bersama penulis sudah mulai merasakan adanya pergerakan energi kuat. Sayangnya kamera kami tidak bisa memotret pergerakan cahaya berwarna merah yang datangnya dari arah sisi atas sepur menuju hampir ke arah kami berdiri.

Tanda Garis Putih Adalah Arah Gerakan Cahaya Warna Merah Yang Tidak Berhasil Kami Abadikan.

Dari sisi lain, Penulis mencoba memburu energi kuat lainnya yang berada tidak jauh dari lokasi. Disini potografer berhasil mengambil sedikit gambar walau tidak seperti yang pembaca inginkan.


Saat Melakukan Interaksi

Setelah beberapa kali melakukan interaksi, team kami mencoba merubah lokasi ke arah stasiun KA yang jaraknya hanya beberapa meter dari titik pertama. Disini hanya ada beberapa titik yang terdapat aura kuat, tepatnya di sekitar bangunan - bangunan tua sekitar stasiun.

Lokasi Pertama Yang Nanti Akan Jadi Perburuan Investigasi Selanjutnya oleh Team.




Penelusuran ke beberapa titik lokasi selanjutnya ini, team akan menginvestigasi pada ekspedisi selanjutnya yang lokasinya masih di wilayah jalur KA Cibeureum. Jadi pada kesimpulan team investigasi, bahwa hasil survei pada malam pertama akan dilanjutkan pada malam berikutnya. Yang kemudian hasil investigasi ini akan kami unggah di Blog dan Youtube. Namun pada dasarnya, mungkin pembaca Blog sedikit ingin mengetahui cerita - cerita yang ada di lokasi tersebut. Sahabat- sahabat Blogger bisa baca kisah misteri kami pada artikel selanjutnya

Wassalam...


 CREW

Jelajah Candi Sujiwan Dan Sambisari

Dalam legenda disebutkan, Candi Prambanan dibangun dengan bantuan bangsa jin atas perintah Bandung Bondowoso untuk memenuhi permintaan Rara Jonggrang dalam waktu satu malam. Namun apakah ini sekedar penyelimutan dari kenyataan yang sebenarnya, yakni dengan mengerahkan tenaga rakyat, namun dengan imbalan yang sangat minim. Mengingat penguasa pada waktu itu sangat besar wibawanya.

Yang jelas, dalam sejarah tercatat, setelah pemerintahan Rakai Pikatan dan Ratu Pramodyawaradhani, kerajaan Mataram mengalami kesulitan keuangan, karena terlampau banyak pengeluaran untuk membangun candi dan memeliharanya.

Candi Sojiwan letaknya di dusun Kebon Dalem Kidul, Bokoharjo, Prambanan, Sleman, Yogyakarta. Ditengah-tengah antara candi Prambanan di sebelah Utara, dan situs Kraton Boko di sebelah Selatan. Luas areal sekitar 2 Hektar, dipenuhi reruntuhan bekas candi yang belum semuanya dikembalikan ke bentuk aslinya. Melihat ciri-cirinya, candiini beraliran Budha, sebab selain bekas-bekas bentuk yoni, juga terdapat bentuk stupa yang cukup besar. Menurut cerita, konon nama Sojiwan berasal dari kata Sejiwa.


Disinilah tempat beradunya perkelahian antara Pangeran Bandung, bangsawan dari kerajaan Pengging melawan seorang sakti bernama Bondowoso. Konon perkelahian itu sama-sama kuat dan sakti, tak seorang pun diantara mereka berdua mengalahkan satu sama. Pada puncak adu kesaktian, keduanya hampir kehabisan tenaga dan kesaktiannya. Dalam kondisi sama-sama kritis, terjadilah dialog siapa sebenarnya Ksatria Bandung.
Akhirnya Bandung berterus terang menyatakan jati dirinya, " Aku adalah Pangeran Bndung, putra ramanda Prabu Danumoyo, Raja Pengging, saya tengah mengemban misi untuk memerangi Prabu Boko yang lalim, suka meminta persembahan manusia untuk di santap". Mendengar jati diri Bandung yang sebenarnya dengan misi sucinya yang di emban, Bondowoso menyadari bahwa musuh yang  dihadapinya saat itu sebenarnya masih keponakannya sendiri". Dalam hal ini, seorang tua wajib mendukung usaha generasi muda dalam memerangi kebathilan. Akhirnya Bondowoso rela mati ditangan Bandung, seketika Bandung merasa kesaktiannya bertambah setelah Jiwa Bondowoso masuk ke dalam raga Pangeran Bandung.

Untuk menunjukan rasa terima kasih Bandung atas keluhuran budi pamannya, ditempat itu lalu dibangun sebuah candi. Itulah candi Sujiwan, yang berasal dari kata Manjing Sujiwanya. Untuk selanjutnya, nama Pangeran Bandung disatukan menjadi Bandung Bondowoso.

Hingga kini tempat tersebut masih terasa wingit. Pada malam hari, khususnya pada malam pasaran kliwon, sering terlihat adanya seekor naga besar atau putri cantik menurut penuturan penjaga malam candi Widodo 50 tahun. Hal ini saya buktikan lewat kontemplasi kontak gaib, saya dijumpai dayang penunggu candi cantriknya Bondowoso sakembaran, yakni Pranungkian dan Pangringkihan. Mereka membenarkan bahwa tempat ini adalah lokasi saat-saat akhir Bondowoso melakukan perkelahian melawan Pangeran Bandung, setelah pertempuran di sumur Bandung.

Di Jl. Solo Km 10 ke Utara sekitar 2 Km terdapat candi Sambisari. Disini saya juga melakukan kontemplasi. Jejak purbakala yang terletak di desa Sambisari, Purwomartani, Kalasan, Sleman ini telah selesai pemugarannya sejak beberapa tahun yang lalu, dan telah resmi dinyatakam sebagai obyek wisata.


Dalam kontemplasi, saya berhasil ditemui penunggu candi yang mengaku bernama Eyang Adisaka. Di lihat dari penampilannya, sudah tergolong modern, mengenakan baju surjan lurik dengan ikat kepala hitam. Menyatakan berstatus "Magersari", jadi bukan penunggu asli sebagaimana yang saya jumpai di komplek situs Boko maupun candi Sujiwan yang masih menggunakan busana jaman Hindu.

Ditanya tentang keberadaan candi Sambisari, Eyang Adisaka menjelaskan, candi Sambisari merupakan tempat pemujaan. Seperti biasanya, di tempat ini tersimpat abu jenazah. Bila ditarik garis luar arah Barat ke Timur, akan segaris dengan cndi Kedulan sebelah Utama Bogem, Kalsan, candi Plaosan hingga candi Jago di Jawa Timur.

Beruntung saya bisa kontak gaib dengan para pendahulu. Bukan dengan maksud mengkultuskan keberadaannya, akan tetapi untuk sekedar mengungkap rahasia kekuatan yang terkandung di dalamnya. Laku ini saya anggap sebagai sikap menghormati para leluhur, tanpa mengurangi kepercayaan bahwa semua berkat dan karunia  berasal dari Tuhan Sang Pencipta Alam Semesta.

Postingan ini hanya sekedar untuk mengenal lebih jauh tentang Sejarah dan Budaya Nusantara yang selama ini tidak bisa diperkenalkan oleh lembaga-lembaga pendidikan kepada generasi-generasi saat ini.

Jelajah Kawasan Hutan Bunian Galunggung

Saya akan sedikit berbagi cerita tentang pengalaman menjajal gunung Galunggung yang terletak di kabupaten Tasikmalaya, setelah perjalanan ekspedisi gunung-gunung lain yang ada di pulau jawa. Sebenarnya saya bukan pendaki gunung handal yang seperti kawan-kawan sering lakukan.
Sebelumnya saya akan mengungkap sedikit keberadaan yang ada di gunung Galunggung. Mungkin ini sudah menjadi cerita rahasia umum, sebab hasil kontemplasi saya sendiri mengatakan bahwa dibalik keindahan Galunggung tersimpan harta pusaka ratusan bahkan berabad tahun. Hal ini pun diakui oleh seorang juru kunci gunung Galunggung yang saya kenal baik Namun siapa sangka jika pada dinding Galunggung terdapat kekayaan alam yang sangat bernilai. Tapi saya tak bisa menunjukan letak tersebut, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan oleh orang-orang dan pihak yang tidak bertanggung jawab. Percaya atau tidak, saya pernah membuktikannya.
Awal penjelajahan saya di gunung Galunggung pada pertengahan tahun 2007. Pada hari pertama tujuan saya adalah sebuah goa yang berada di belantara hutan lereng Galunggung (lihat gambar. tanda panah merah). Tapi saya heran, warga sekitar wilayah Galunggung tidak tahu menahu soal keberadaan goa tersebut, bahkan tak ada seorang pun yang tahu jika ada goa di dalam hutan tersebut. Sekarang saya paham, kenapa goa tersebut tidak pernah dijumpai orang tanpa seizin juru kunci. Saya pernah membuktikan hal ini, ternyata memang tak pernah dijumpai ada goa, padahal saya melalui jalan yang sama pada saat itu... aneh ya.
Perjalanan menuju goa hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki melewati jalan terjal dan menanjak. Yang saya herankan, berjalan kaki menuju goa hanya ditempuh selama 1 jam 10 menit (sudah termasuk istirahat diperjalanan), saat kembali pun hanya ditempuh dengan waktu yang sama, padahal saat kembali saya tidak beristirahat serta medan jalan menurun, berbeda dengan saat menuju yang medannya naik bukit.
Setelah memasuki kawasan hutan belantara saya mulai merasa asing dengan apa yang saya lihat. Tapi mereka sangat ramah saat berpapasan, pakaian yang khas serba hitam tanpa kancing dengan golok dipinggang dan kain sarung yang dijadikan ikat pinggang serta seekor anjing yang setia mengiringi langkah majikannya, bahkan ada juga yang hanya bertelanjang dada.
Ditengah semak seorang ibu paruh baya bersama putri-putrinya sedang berkumpul menikmati makan nasi yang hanya beralaskan daun pisang dan tempurung kelapa menawarkan saya agar ikut bergabung pada saat saya melewati jalan itu. Saya sangat terpesona dengan keramahan mereka.
Inilah gambaran-gambaran ilustrasi penghuni hutan bunian gunung Galunggung.

Perjalanan yang cukup menguras tenaga membawa saya ke tempat tujuan. Selama satu malam saya mencoba kontemplasi ditempat tersebut. Semua ini saya lakukan demi suatu pengalaman dan keingintahuan apa yang ada dibalik alam Galunggung. Menurut sejarah, Galunggung sudah pernah meletus 4 kali, yang terakhir pada tahun 1822 sampai1823, letusan gunung terlama selama 9 bulan yang memakan korban jiwa sekitar 4000 jiwa lebih. Dalam kontemplasi saya, goa tersebut seperti aula sebuah kerajaan yang berhias emas dan permadani indah. Beberapa saat kemudian saya didatangi seorang putri cantik dan memperkenalkan namanya (maaf saya lupa nama perempuan tersebut), dia mengaku sebagai dayang utusan Ratu Laut Kidul untuk menjaga wilayah Galunggung. Dia menyebutkan, jika goa ini bisa menembus pantai selatan. Maka tidak heran jika cerita orang tua bahwa semburan pasir letusan Galunggung bercampur dengan sisa-sisa kerang laut.
Wallohu 'alam.....

Pada hari selanjutnya penjelajahan saya lakukan di tiga titik yang berbeda masih dalam kawasan gunung Galunggung. Pada kontemplasi teakhir saya dapat menjumpai Kuncung Putih yang mengaku tinggal dan menjaga wilayah kawah Galunggung. Dia menyebutkan, jika suatu saat Gunung ini akan meletus kembali dan meratakan semuanya. Benar atau tidaknya semua sudah diatur oleh Sang Maha Pencipta.

Hubungan manusia, Tuhan dan alam semesta, muncul karena  kesadaran bahwa diri kita hanya merupakan bagian terkecil dari alam semesta, lemah dan tak berdaya, sedangkan alam mempunyai kekuatan dan kuasa yang maha dahsyat. Sehingga tidak ada seorang pun mampu menguasai dan menaklukan kekuatan alam tersebut. Bahkan, pada komunitas masyarakat tertentu, memahami bahwa ada bagian-bagian pada alam merupakan pribadi yang harus dihormati ataupun ada pribadi tertentu yang menguasai alam, ia bisa mencurahkan murkanya jika manusia merusak wilayah kekuasaannya.